Tampilkan postingan dengan label Sosiologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sosiologi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Juli 2015

Teori dan Mekanisme Perubahan Kebudayaan

Teori dan Mekanisme Perubahan Kebudayaan



Teori dan Mekanisme Perubahan Kebudayaan
     Dari waktu ke waktu kebudayaan selalu berkembang mencapai bentuknya yang semakin sempurna. Perkembangan kebudayaan tersebut menjadi semakin kompleks mana kala terjadi persinggungan antara kebudayaan masyarakat yang satu dengan kebudayaan masyarakat yang lain. Dalam keadaan seperti inilah kebudayaan mengalami perubahan-perubahan.

     Perubahan kebudayaan ditandai dengan perubahan unsur-unsur budaya masyarakat yang dianggap tidak sesuai lagi dengan perkembangan zaman untuk kemudian dibentuk suatu kesatuan budaya baru yang sesuai dengan tuntutan zaman. 

     Seperti yang telah diuraikan dalam bagian sebelumnya, bahwa kebudayaan meliputi keseluruhan dari sistem ide, sistem aktivitas, dan artefak-artefak. Perubahan kebudayaan yang dimaksud bisa terjadi pada salah satu atau seluruh unsur kebudayaan yang ada.

     Pada dasarnya, perubahan pada salah satu unsur kebudayaan akan berpengaruh terhadap perubahan pada unsur-unsur lainnya. Perubahan pada sistem ide akan membawa pengaruh kepada sistem aktivitas dan sekaligus berpengaruh pada artefak yang dihasilkan. Sebaliknya, dihasilkannya artefak-artefak baru akan berpengaruh pada sistem ide dan sistem aktivitas.

     Ditinjau dari waktunya, perubahan kebudayaan dapat terjadi melalui dua cara, yakni revolusi dan evolusi. Revolusi dapat diartikan sebagai suatu perubahan kebudayaan yang terjadi secara besar-besaran dan terjadi pada waktu yang relatif singkat. 

     Fenomena revolusi ini dapat disimak pada Revolusi Pertanian di Inggris pada abad ke-17, Revolusi Industri di Inggris pada abad ke-18, Revolusi Perancis pada abad ke-18, Revolusi Kemerdekaan di Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, dan sebagainya. Sedangkan evolusi dapat diartikan sebagai suatu perubahan kebudayaan yang berlangsung secara berurutan dalam waktu yang relatif lama.

     Ditinjau dari sifatnya, perubahan kebudayaan juga dapat dibedakan menjadi dua bagian, yaitu progresif dan regresif. Progresif merupakan perubahan kebudayaan yang mengarah pada bentuk yang semakin sempurna. Progresif dapat dikatakan sebagai langkah maju dari suatu kebudayaan. Sedangkan regresif merupakan suatu perubahan kebudayaan yang justru menjadi semakin menurun. 

     Regresif dapat dikatakan sebagai langkah mundur dari suatu kebudayaan. cepat atau lambatnya suatu perubahan kebudayaan, atau, maju atau mundurnya suatu perubahan kebudayaan akan sangat tergantung pada kondisi masyarakat di mana kebudayaan tersebut berada. 

     Adapun beberapa faktor yang mempengaruhi perubahan kebudayaan adalah: 

  1. adanya pihak-pihak yang menghendaki terjadinya perubahan kebudayaan atau dikenal dengan istilah agent of change, 
  2. hubungan-hubungan yang terjadi dengan kebudayaan-kebudayaan lain. 
  3. kondisi-kondisi lain yang terdapat dalam masyarakat yang bersangkutan, seperti karakter masyarakat, sistem sosial, struktur sosial, dan lain sebagainya.

Teori-Teori Perubahan Kebudayaan

1.Unlinear Theories of Evolution 

     Unlinear theories of evolution menyatakan bahwa manusia dan masyarakat, termasuk di dalamnya kebudayaan, mengalami perkembangan sesuai dengan tahap-tahap tertentu, dari bentuk yang sederhana menuju bentuk yang semakin sempurna dan kompleks. Teoti ini dipelopori oleh Auguste Comte. Termasuk pendukung teori ini adalah Pitirim A. Sorokin yang menyatakan bahwa masyarakat berkembang melalui tahap-tahap yang masing- masing didasarkan pada sistem kebenaran. Tahap pertama didasarkan pada kepercayaan, tahap kedua didasarkan pada indera manusia, dan tahap terakhir didasarkan pada kebenaran.

2.Universal Theories of Evolution

Universal theories of evolution menyatakan bahwa perkembangan masyarakat tidak melalui tahapan-tahapan secara tetap karena kebudayaan manusia telah memiliki garis evolusi tertentu. Prinsip dasar teori ini diletakkan oleh Herbert Spencer. Selanjutnya tokoh ini beranggapan bahwa masyarakat masyarakat merupakan suatu hasil perkembangan dari sifat dan susunan yang homogen menuju sifat dan susunan yang heterogen.

3.Multilinear Theories of Evolution

     Multilinear theories of evolution menyatakan bahwa perubahan kebudayaan dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu. Teori ini lebih menekankan pada kegiatan penelitian terhadap tahap-tahap perkembangan tertentu dalam evolusi masyarakat, misalnya mengadakan penelitian tentang pengaruh perubahan sistem kekeluargaan dalam suatu masyarakat, dan sebagainya.

Mekanisme Perubahan Kebudayaan

     Berlangsungnya proses perubahan kebudayaan sangat dipengaruhi oleh dua hal, yakni:

  1. adanya faktor-faktor yang mendorong terjadinya perubahan, dan 
  2. adanya saluran-saluran perubahan.

     Terdapat dua faktor yang mendorong terjadinya perubahan kebudayaan. Pertama, faktor internal, yakni faktor yang berasal dari dalam masyarakat itu sendiri, antara lain:

  1. berkembangnya rasa ketidakpuasan terhadap sistem kebudayaan yang ada, 
  2. adanya individu-individu yang menyimpang dari sistem nilai budaya yang ada, 
  3. adanya penemuan-penemuan baru yang dapat diterima secara luas di kalangan masyarakat yang bersangkutan.

     Kedua, faktor eksternal, yakni faktor yang berasal dari luar masyarakat. Termasuk ke dalam faktor eksternal antara lain adalah: 

  1. terjadinya kontak dengan kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat lain, 
  2. terjadinya bencana alam yang merusak lingkungan tempat kebudayaan tersebut tumbuh dan berkembang, 
  3. terjadinya peperangan yang dapat mengembangkan dan/atau mematikan suatu kebudayaan.

     Kemajuan kebudayaan yang dicapai oleh suatu masyarakat tidak dapat dilepaskan dari beberapa komponen, yaitu: 

  1. adanya kepemimpinan yang mantap, 
  2. adanya stabilitas sosial pada masyarakat yang bersangkutan, 
  3. adanya saluran-saluran yang memungkinkan terjadinya perubahan. 

     Saluran-saluran kebudayaan yang dimaksud di antaranya adalah lembaga sosial, lembaga politik, lembaga keagamaan, lembaga pendidikan, dan sebagainya.

     Perubahan kebudayaan dapat terjadi dalam beberapa bentuk, seperti difusi, inovasi, asimilasi, dan akulturasi. Difusi merupakan suatu penyebaran unsur-unsur kebudayaan dari pihak yang satu menuju pihak yang lainnya, misalnya tersiarnya ide-ide baru melalui siaran radio, televise, internet, koran, dan sebagainya. 

     Inovasi merupakan proses perubahan yang bersumber dari adanya penemuan-penemuan baru yang terdapat di dalam masyarakat itu sendiri. Asimilasi merupakan proses bercampurnya kebudayaan antara dua masyarakat atau lebih yang saling berdekatan yang terjadi secara terus menerus dalam waktu yang cukup lama. 

     Proses asimilasi ini akan melahirkan suatu bentuk kebudayaan baru yang merupakan konbinasi dari masing-masing karakter kebudayaan yang saling mempengaruhi. Akulturasi merupakan proses bercampurnya kebudayaan asing dengan kebudayaan setempat yang bersifat melengkapi. Proses akulturasi tidak mengubah ciri khas dari budaya setempat.

     Sekian ulasan saya mengenai teori-teori perubahan kebudayaan serta mekanisme perubahan kebudayaan. Semoga bermanfaat.
Baca Selengkapnya

Substansi Kebudayaan

Substansi Kebudayaan


     Secara umum setiap sistem budaya memiliki substansi yang di antaranya berupa pengetahuan, nilai, pandangan hidup, kepercayaan, persepsi, dan etos ekerja. Beberapa unsur kebudayaan tersebut sangat berpengaruh bagi terbentuknya kepribadian.

Macam-Macam Substansi Kebudayaan

a.Pengetahuan


Air Mendidih
     Pengetahuan dapat dikatakan sebagai dugaan-dugaan (hipotesa) yang telah teruji kebenarannya, baik melalui teori-teori tertentu maupun melalui pengalaman langsung dalam kehidupan nyata. Misalnya: air akan mendidih pada suhu 100 derajat Celsius, angin bertiup dari tekanan udara yang tinggi menuju tekanan udara yang rendah, pada musim penghujan berbagai macam tanaman akan tumbuh dengan subur, rajin pangkal pandai hemat pangkal kaya, dan lain sebagainya. Manusia sangat memerlukan pengetahuan dalam melangsungkan kehidupannya.

b.Nilai

     Nilai merupakan segala sesuatu yang dianggap berharga, dianggap baik, dan dianggap benar yang telah diterima dan disepakati bersama dalam kehidupan masyarakat. Selanjutnya, nilai tersebut dijadikan pedoman oleh setiap warga masyarakat dalam melaksanakan kegiatan hidup sehari-hari. Prof. Notonegoro mengklasifikasikan nilai menjadi tiga bagian, yaitu:

  1. Nilai Material merupakan nilai yang terkandung dalam suatu benda karena memiliki kegunaan sebagai bahan pembuatan barang tertentu, seperti pasir, batu, tembaga, emas, batu bara, dan sebagainya.
  2. Nilai Vital adalah nilai yang terkandung di dalam suatu benda sebagai akibat dari kegunaan atau fungsi yang ditimbulkan dari benda yang bersangkutan. Misalnya: gergaji memiliki nilai untuk memotong kayu, kapak memiliki nilai untuk membelah kayu, kendaraan memiliki nilai sebagai alat transportasi, kalkulator memiliki nilai sebagai mesin hitung, dan sebagainya.
  3. Nilai Spiritual adalah nilai yang terkandung di dalam jiwa manusia. Nilai spiritual ini bersifat abstrak yang meliputi nilai religius, nilaiestetika, dan nilai moral. Nilai religius merupakan nilai-nilai kebenaran yang terkandung di dalam suatu ajaran agama atau kepercayaan tertentu. Nilai estetika merupakan nilai keindahan yang terdapat dalam suatu benda. Sedangkan nilai moral merupakan nilai mengenai baik buruknya perilaku manusia.

c.Pandangan Hidup

     Pandangan hidup merupakan suatu prinsip yang dianut oleh seseorang atau sekelompok orang. Pandangan hidup seseorang sangat dipengaruhi oleh pengetahuan dan pengalaman hidup yang dimiliki. Sifat dari suatu pandangan hidup sangat abstrak karena hanya terdapat di dalam jiwa manusia. 

     Namun demikian, pandangan hidup tersebut sangat berpengaruh terhadap persepsi, sikap, dan perilaku seseorang. Pada masyarakat Indonesia, Pancasila dianggap sebagai pandangan hidup bangsa, artinya Pancasila telah tumbuh dan berkembang pada masyarakat Indonesia sehingga menjadi pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

d.Kepercayaan

     Kepercayaan merupakan pandangan hidup yang telah menyatu dan mendarah daging pada diri manusia, baik secara individual maupun secara kolektif, sehingga menjadi dasar dalam berpikir, bersikap, dan berperilaku. Dikaitkan dengan kehidupan keagamaan, kepercayaan diimplementasikan dalam bentuk iman dan taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam konteks seperti ini, kepercayaan akan berkembang secara sistematis dengan para pengikut yang fanatis.

e.Persepsi

     Persepsi merupakan pandangan seseorang terhadap sesuatu hal. Antara orang yang satu dengan orang yang lain tidak selalu memiliki persepsi yang sama terhadap suatu hal. Hal ini disebabkan karena adanya perb edaan sudut pandang yang dimiliki oleh masing-masing orang. Biasanya persepsi akan tampak dalam bentuk perilaku yang ditunjukkan oleh seseorang.

f.Etos Kerja

     Etos kerja merupakan prinsip-prinsip yang dimiliki oleh seseorang dalam hubungannya dengan semangat kerja. Etos kerja seseorang dipengaruhi dua faktor, yaitu: (a) faktor lingkungan budaya, dan (b) faktor potensi individual.

Perubahan Masyarakat dan Kebudayaan

     Kebudayaan yang dihasilkan oleh masyarakat bersifat universal, artinya masyarakat pada tingkatan apapun pasti memiliki struktur budaya tertentu sebagai hasil pergaulan hidup dan sekaligus sebagai hasil dari proses pembelajaran. Struktur budaya yang telah dimiliki tersebut akan dilaksanakan, dipertahankan, dan dikembangkan dalam kehidupan sehari-hari.

     Makin rasional pola pemikiran yang dimiliki oleh masyarakat, maka kebudayaannya pun akan berkembang sesuai dengan pola pikir yang rasional sehingga jumlah dan jenis kebudayaan akan semakin banyak, semakin lengkap, semakin efisien, dan semakin efektif. Namun demikian, pada dasarnya setiap budaya memiliki sifat sifat yang relatif sama, yakni:

  1. dimiliki bersama oleh suatu kelompok masyarakat, 
  2. budaya cenderung bertahan dan berubah sesuai dengan situasi yang dialami oleh masyarakat yang bersangkutan,
  3. budaya berfungsi membantu manusia dalam memenuhi kebutuhan hidup (kebutuhan biologis, kebutuhan sosial, dan kebutuhan psikologis) sebagai hasil adaptasi dan upaya manusia dalam memanfaatkan dan mengolah lingkungan.
  4. budaya diperoleh melalui proses belajar dalam kehidupan masyarakat dan lingkungan hidupnya.

     Seperti yang disebutkan di atas bahwa salah satu sifat kebudayaan adalah senantiasa berubah, baik struktur sosial maupun struktur budayanya. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi cepat atau lambatnya perubahan suatu kebudayaan adalah sebagai berikut:

a.Kondisi lingkungan alam

     Lingkungan alam meliputi iklim, kondisi tanah, kondisi flora dan fauna, letak geografis, dan sebagainya. Makin potensial dan makin strategis suatu lingkungan alam (sebagai permukiman) akan semakin mendukung terhadap terjadinya proses perubahan. Hal ini dimungkinkan karena lingkungan alam yang potensial dan strategis akan menjadi jaminan bagi keberlanjutan kehidupan dan kreativitas masyarakat yang menempatinya.

b.Kondisi sosiografis

     Kondisi sosiografis merupakan suatu gambaran tentang penduduk yang meliputi jumlah dan kualitasnya. Makin besar jumlah penduduk dan makin tinggi kualitasnya akan mempercepat terjadinya proses perubahan pada masyarakat tersebut. Sebaliknya, semakin sedikit jumlah penduduk dan semakin rendah kualitasnya akan berdampak pada lambatnya proses perubahan pada masyarakat tersebut.

c.Kondisi hubungan antarmasyarakat

     Perubahan kebudayaan juga bisa disebabkan oleh faktor frekuensi hubungan antar masyarakat. Semakin tinggi frekuensi hubungan antarmasyarakat akan mempercepat terjadinya proses perubahan. Sebaliknya, semakin rendah frekuensi hubungan antar- masyarakat akan membuat proses perubahan berjalan secara lamban.

     Sekian ulasan saya mengenai substansi kebudayaan, mulai dari macam-macam substansi kebudayaan serta perubahan masyarakat dan keebudayaan. Semoga bermanfaat.
Baca Selengkapnya

Pengaruh Diferensiasi dan Stratifikasi Sosial Pada Masyarakat

Pengaruh Diferensiasi dan Stratifikasi Sosial Pada Masyarakat



     Dalam kehidupan sehari-hari sering kita jumpai adanya stratifikasi sosial (pelapisan sosial) dan diferensiasi sosial (perbedaan sosial) dalam masyarakat. 

Pengaruh Diferensiasi dan Stratifikasi Sosial Pada Masyarakat     Seperti yang kita ketahui stratifikasi sosial adalah pembedaan masyarakat ke dalam kelas-kelas secara vertikal,yang diwujudkan dari tingkatan masyarakat paling tingggi ke tingkatan paling rendah (umur, kekayaan,kepandaian). Sedangkan diferensiasi sosial lebih mengacu pada pembedaan masyarakat yang tidak bertingkat (horizontal) misalnya pengelompokan masyarakat atas dasar ras, agama, dan jenis kelamin.

     Sebagai ilustrasi untuk membedakan antara stratifikasi sosial dengan diferensiasi sosial, misalnya Andi berumur 20 tahun, Budi berumur 15 tahun hal ini menunjukkan Andi termasuk pada tingkatan usia dewasa,sementara Budi tingkatan usia remaja. Contoh diferensiasi sosial adalah Ucok bersuku bangsa Batak, Dodo bersuku bangsa Jawa. Diferensiasi suku bangsa antara Ucok dan Dodo hanya berfungsi sebagai pembeda,bukan menunjukkan suku bangsa yang satu lebih unggul daripada suku bangsa yang lainnya.

     Namun dalam kehidupan masyarakat pengaruh dan perbedaan antara stratifikasi sosial dengan diferensiasi sosial masih sering dicampuradukkan. Misalnya kita masih mengenal apa yang disebut primordialisme, yaitu suatu paham atau perasaan bahwa kelompok “saya lah” yang paling baik atau paling unggul. Terlebih lagi dengan adanya paham ethnosentrisme dimana individu atau kelompok menganggap budaya sendiri atau suku bangsanya yang paling unggul dari suku bangsa lain serta menganggap remeh budaya/suku bangsa lain.

     Diferensiasi antar jenis kelamin tertutama dalam hal menduduki suatu jabatan tertentu kadang-kadang masih diperdebatkan. Anggapan bahwa kedudukan laki-laki lebih tinggi dibandingkan dengan kedudukan perempuan masih banyak melekat dalam falsafah hidup sebagian masyarakat kita.

     Dengan demikian stratifikasi sosial juga akan mempengaruhi konflik dan integrasi sosial, karena stratifikasi sosial dapat membuahkan kesenjangan dalam kehidupan masyarakat yang akhirnya juga akan membuahkan konflik dan bisa mengancam integrasi sosial. Diferensiasi sosial juga dapat menimbulkan konflik karena adanya perbedaan ras, suku dan agama.

Penting Untuk Diingat

     Latar belakang manusia yang berbeda-beda baik itu mengenai asal usul, pendidikan, keturunan, jabatan dan lainnya akan membentuk suatu struktur masyarakat yang dapat membedakan status manusia didalam kehidupan bermasyarakat secara vertikal (stratifikasi sosial) maupun horizontal (differensiasi sosial). Kenyataan ini akan memberikan dampak yang beraneka ragam dalam kehidupan bermasyarakat.

     Stratifikasi sosial adalah gejala alami yang tidak mungkin dapat dihilangkan, yang merupakan konsekuensi logis dari faktor-faktor yang ada dalam kehidupan manusia, yaitu: 
  1. keturunan,
  2. kekayaan,
  3. kedudukan,
  4. pendidikan,
  5. pekerjaan, dan lain sebagainya
     Stratifikasi sosial dapat terjadi melalui dua cara, yaitu:
  1. terjadi secara alamiah selaras dengan pertumbuhan masyarakat, dan
  2. terjadi secara disengaja dan direncanakan manusia.

     Pembentukan stratifikasi sosial sangat terkait dengan nilai-nilai yang berharga dan terhormat. Hal ini sangat tergantung pula dari sudut mana seseorang memandang. Secara umum standar nilai tersebut dapat dikelompokkan ke dalam tiga kriteria, yakni kriteria ekonomi, kriteria sosial, dan kriteria politik.

     Status yang dimiliki oleh seseorang membawa konsekuensi terhadap peran seseorang dalam kehidupan sosial. Status yang dimiliki itu tercermin dalam peran-peran yang ditunjukkan dalam interaksi sosial. Pemahaman terhadap sistem sosial sangat diperlukan untuk dapat melihat hubungan antara status dan peran sosial dalam sebuah interaksi sosial.

     Status sosial dapat diperoleh dengan dua cara, yaitu (1) status yang diperoleh sejak lahir seperti jenis kelamin, kasta, dan lain sebagainya, dan (2) status yang diperoleh melalui kerja keras seperti pengusaha, pimpinan partai politik, PNS, dan lain sebagainya.

     Jika seseorang dalam sebuah kelompok social memiliki status sosial maka ia akan memiliki peran dari statusnya itu. Misalnya, seorang guru akan memiliki kewajiban memberikan pengajaran pada murid-muridnya, dan lain sebagainya.

     Diferensiasi sosial atau perbedaan sosial merupakan pembedaan warga masyarakat ke dalam golongan-golongan atau kelompok-kelompok secara horizontal. Hal ini dicirikan dengan: ciri-ciri fisik, ciri-ciri sosial, dan ciri-ciri budaya.

     Bentuk-bentuk diferensiasi sosial dapat dibedakan atas enam macam, yaitu: diferensiasi sosial (perbedaaan sosial) berdasarkan jenis kelamin, ras, profesi, klan, suku bangsa, dan agama.

     Sekian ulasan saya mengenai pengaruh diferensiasi dan stratifikasi sosial pada masyarakat. Semoga bermanfaat.
Baca Selengkapnya

Senin, 06 Juli 2015

Sosiologi Sebagai Ilmu Sosial

Sosiologi Sebagai Ilmu Sosial



     Tokoh yang pertama kali mengemukakan istilah sosiologi adalah Auguste Comte (1798- 1857). Pemikiran-pemikirannya yang mendalam tentang masyarakat telah menempatkan Auguste Comte sebagai peletak dasar ilmu sosiologi.

Sosiologi Sebagai Ilmu Sosial
     Selanjutnya, ilmu sosiologi ini dikembangkan oleh beberapa pakar, antara lain:

  1. Max Weber
  2. Roucek Warren
  3. Peter L. Berger
  4. Emile Durkheim
  5. Pitirim Sorokin
  6. Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi,
     Sosiologi adalah ilmu yang mengkaji masyarakat, Menurut J.L. Gillin dan J.P. Gillin mengatakan bahwa masyarakat merupakan kesatuan hidup manusia yang terikat oleh suatu tata cara (sistem), kebiasaan, dan adat istiadat tertentu yang dianut oleh anggota-anggotanya.

     Dalam bukunya yang berjudul Pengantar Ilmu Antropologi, Koentjaraningrat mengatakan bahwa masyarakat merupakan sekumpulan manusia yang saling bergaul atau saling berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu, dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama.

     Sebagai ilmu, sosiologi didukung oleh beberapa hal yaitu:

  1. Memiliki objek kajian
  2. Memiliki metode ilmiah
  3. Memiliki masyarakat ilmiah

     Berdasarkan sifat dan hakikatnya sebagai ilmu, sosiologi memiliki beberapa karakteristik di antaranya adalah sebagai berikut:

  1. Tidak memiliki konsep maupun teori yang tetap dan pasti mengingat objek kajiannya adalah masyarakat yang bersifat dinamis dan majemuk.
  2. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang bersifat kategoris, yakni terbatas dalam hal mengkaji sesuatu yang telah terjadi dalam kehidupan masyarakat.
  3. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang bersifat umum, yakni memusatkan perhatiannya terhadap gejala-gejala sosial yang bersifat universal.
  4. Sebagai ilmu murni (pure science), sosiologi membatasi diri dari persoalan-persoalan yang bersifat penilaian.

     Selain sebagai ilmu, sosiologi juga merupakan metode. Metode yang lazim dipakai dalam penelitian sosiologi antara lain adalah sebagai berikut:

1.Metode kualitatif, merupakan metode sosiologi yang menekankan pengumpulan data yang berupa kata-kata.

a. Metode historis
b. Metode komparatif
c. Metode studi kasus

2.Metode kuantitatif

a. Metode statistik adalah metode penelitian yang bertujuan untuk mengkaji fenomena sosial melalui data-data statistik.
b. Metode sociometry

3.Metode induktif dipergunakan sebagai pertimbangan dalam mengambil kesimpulan umum.

4.Metode deduktif

5.Metode empiris

     Ilmu pengetahuan dan teknologi telah mendorong berkembangnya industrialisasi.
Selanjutnya, perkembangan industrialisasi mendorong perpindahan tenaga-tenaga kerja yang berasal dari pedesaan menuju sektor-sektor industri di perkotaan. Dengan demikian, ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan faktor penting bagi terjadinya dinamika sosial.

     Dari perkembangan iptek dan industrialisasi tersebut selain melahirkan dampak positif dan negative. Masalah sosial Ditinjau dari penyebabnya, masalah sosial dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian, yaitu: (1) masalah sosial sebagai pengaruh disorganisasi, seperti kemiskinan, disorganisasi keluarga, lingkungan hidup, peperangan, dan lain sebagainya, dan (2) masalah sosial sebagai akibat dari adanya perilaku menyimpang, seperti kriminalitas, prostitusi, alkoholisme, dan lain sebagainya.

     Di Indonesia, IPTEK berkembang sejalan dengan proses modernisasi. Sebagai suatu proses sosial, modernisasi sulit dicari batasannya secara mutlak karena beberapa hal sebagai berikut:

  1. Modernisasi meliputi proses yang sangat luas dan mencakup berbagai segi kehidupan.
  2. Terdapat perbedaan titik tekan modernisasi pada masing-masing daerah atau wilayah karena disesuaikan dengan situasi dan kondisi masing-masing daerah atau wilayah tersebut.

     Selain itu, bergulir pula proses industrialisasi di Indonesia yang diarahkan pada perluasan lapangan kerja baru, penyediaan barang dan jasa, peningkatan ekspor dan penghematan devisa. Namun perkembangan tersebut telah mendorong pula semakin derasnya laju urbanisasi.

     Sekian ulasan saya mengenai sosiologi sebagai ilmu sosial. Semoga bermanfaat.
Baca Selengkapnya

Sosiologi Sebagai Ilmu dan Metode

Sosiologi Sebagai Ilmu dan Metode


     Sejak dilahirkan di dunia, manusia memiliki naluri untuk memperhatikan manusia lain yang ada di sekitarnya. Lingkungan pertama yang menjadi perhatian adalah keluarganya, yang terdiri dari kedua orang tua, ssaudara, dan mungkin juga orang lain yang telah dianggap menjadi bagian dari keluarga yang bersangkutan. Selanjutnya manusia juga memperhatikan lingkungan lain yang lebih luas, seperti karib kerabat, tetangga, kawan sepermainan, dan seterusnya. 

     Perhatian tersebut pada awalnya bersifat naluriah saja, oleh karena sejak dilahirkan manusia memiliki hasrat yang kuat untuk senantiasa hidup bersama dengan sesama manusia. Perhatian yang bersifat naluriah tersebut mula-mula hanya merupakan pengetahuan belaka, kemudian secara lambat laun tersusun secara sistematis. Dalam perkembangan selanjutnya, muncullah orang-orang yang secara khusus memikirkan masyarakat beserta kehidupannya secara mendalam dalam rangka mencari kebenaran yang hakiki. Berawal dari pemikiran yang mendalam seperti itulah kemudian berkembang ilmu pengetahuan, dalam hal ini adalah ilmu sosiologi dan ilmu antropologi.

Sosiologi Sebagai Ilmu

     Secara etimologis, sosiologi terdiri dari dua suku kata, yakni socius dan logos. Socius merupakan bahasa Latin yang berarti teman, sedangkan logos merupakan bahasa Yunani yang berarti kata, perkataan, atau pembicaraan. Dengan demikian, secara harfiah sosiologi berarti memperbincangkan teman pergaulan, atau, dapat diperluas artinya menjadi ilmu pengetahuan tentang pergaulan hidup manusia atau ilmu pengetahuan tentang masyarakat.

Sosiologi Sebagai Ilmu dan Metode
     Tokoh yang pertama kali mengemukakan istilah sosiologi adalah Auguste Comte (1798-1857). Pemikiran-pemikirannya yang mendalam tentang masyarakat telah menempatkan Auguste Comte sebagai peletak dasar ilmu sosiologi. Dalam bukunya yang berjudul Cours de Philosophie Positive, ia memberikan penjelasan tentang beberapa pendekatan umum yang dapat dipergunakan untuk mengkaji kehidupan masyarakat. Pendekatan-pendekatan umum tersebut pada akhirnya berkembang menjadi metodologi yang bersifat ilmiah. Itulah sebabnya Auguste Comte dikenal sebagai Bapak Sosiologi..

     Pemikiran-pemikiran Auguste Comte tentang masyarakat mendapat perhatian dari pemikir-pemikir sosial pada generasi berikutnya. Itulah sebabnya sosiologi mengalami perkembangan secara pesat yang ditandai dengan bermunculannya ahli-ahli sosiologi. Karena objek kajian sosiologi adalah kehidupan masyarakat yang bersifat dinamis dan sangat beragam, sehingga terdapat beberapa perbedaan sudut pandang terhadap konsep sosiologi. Perbedaan sudut pandang tersebut tentu akan memunculkan berbagai definisi tentang sosiologi. Beberapa pendapat ahli tentang sosiologi dapat diperhatikan pada uraian berikut ini:

1.Menurut Max Weber, sosiologi merupakan ilmu yang berhubungan dengan pemahaman terhadap tindakan-tindakan sosial dan sekaligus berhubungan dengan suatu penjelasan kausal mengenai arah, tujuan, dan konsekuensi dari tindakan sosial.

2.Menurut Roucek Warren, sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok.

3.Menurut Peter L. Berger, sosiologi merupakan studi ilmiah mengenai hubungan antara masyarakat dengan individu.

4.Menurut Emile Durkheim, sosiologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari fakta-fakta sosial. Selanjutnya tokoh ini juga menjelaskan bahwa fakta sosial sangat berbeda dengan fakta individual. Fakta sosial bukanlah fakta individual.

5.Menurut Pitirim Sorokin, sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari tentang: (1) hubungan dan pengaruh timbal balik antara aneka macam gejala-gejala sosial, (2) hubungan antara gejala-gejala sosial dengan gejala-gejala nonsosial, dan (3) ciri-ciri umum semua jenis gejala sosial lainnya. Hubungan timbal balik antara gejala-gejala sosial misalnya adalah: hubungan antara tingkat ekonomi dengan perilaku sosial, hubungan antara pendidikan dengan kebudayaan, hubungan antara pendidikan dengan ekonomi, hubungan antara agama dengan kehidupan sosial, dan lain sebagainya.

     Hubungan timbal balik antara gejala-gejala sosial dengan gejala-gejala nonsosial misalnya adalah: hubungan antara kondisi geografis dengan kebudayaan, hubungan antara iklim dengan kehidupan ekonomi, dan lain sebagainya.

6.Menurut Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi, sosiologi merupakan ilmu yang mempelajari struktur sosial dan proses-proses sosial, termasuk perubahan-perubahan sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat.

     Beberapa pendapat di atas menunjukkan, selain adanya perbedaan cara pandang yang ditunjukkan oleh masing-masing sosiolog, juga menunjukkan adanya aneka ragam gejala sosial yang menjadi kajian sosiologi. Namun secara umum dapat dikatakan bahwa sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari hubungan-hubungan antarmanusia dalam kehidupan masyarakat, baik struktur sosial, proses sosial, dan perubahan-perubahan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Lalu, apakah yang dimaksud dengan masyarakat tersebut?

     J.L. Gillin dan J.P. Gillin mengatakan bahwa masyarakat merupakan kesatuan hidup manusia yang terikat oleh suatu tata cara (sistem), kebiasaan, dan adat istiadat tertentu yang dianut oleh anggota-anggotanya. Dalam bukunya yang berjudul Pengantar Ilmu Antropologi, Koentjaraningrat mengatakan bahwa masyarakat merupakan sekumpulan manusia yang saling bergaul atau saling berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat tertentu yang bersifat kontinyu, dan yang terikat oleh suatu rasa identitas bersama.

     Tidak diragukan lagi bahwa sosiologi merupakan suatu ilmu. Pernyataan tersebut setidaknya didukung oleh beberapa hal yaitu:

1.Memiliki objek kajian

     Objek kajian sosiologi adalah fenomena sosial secara umum. Dengan demikian, sosiologi tidak terfokus pada bidang-bidang kajian yang spesial seperti ilmu hukum, ilmu ekonomi, ilmu politik, sejarah, antropologi, dan lain sebagainya.

2.Memiliki metode ilmiah


      Secara singkat dapat dikatakan bahwa metode ilmiah merupakan seperangkat langkahlangkah yang disusun secara sistematis guna:
  1. Menggali data yang diperlukan dalam suatu penelitian,
  2. Menganalisis data penelitian,
  3. Menginterpretasikan data penelitian, dan
  4. Mengambil kesimpulan dalam sebuah penelitian ilmiah. Metode sosiologi akan dijelaskan dalam bagian tersendiri.
3.Memiliki masyarakat ilmiah

     Masyarakat ilmiah merupakan sekumpulan orang yang menggeluti disiplin ilmu tertentu untuk mempelajari dan sekaligus mengembangkan bidang keilmuan sesuai dengan disiplin ilmu yang dipilih. Tidak sedikit tokoh yang memilih sosiologi sebagai disiplin ilmu yang dikaji secara mendalam sehingga memunculkan sosiolog-sosiolog yang menciptakan masyarakat ilmiah tersendiri.

     Seperti yang telah dijelaskan pada bagian sebelumnya bahwa objek kajian sosiologi adalah fenomena sosial secara umum. Oleh karena itu, sosiologi merupakan bagian dari ilmu pengetahuan sosial. 

     Objek kajian sosiologi yang merupakan fenomena sosial secara umum memungkinkan berkembangnya beberapa cabang dalam disiplin ilmu sosiologi, di antaranya adalah:
  1. Sosiologi Agama, yakni suatu cabang sosiologi yang secara khusus mempelajari fenomena kehidupan masyarakat yang berhubungan dengan perilaku beragama.
  2. Sosiologi Politik, yakni suatu cabang sosiologi yang secara khusus mempelajari fenomena kehidupan masyarakat yang berhubungan dengan perilaku berpolitik.
  3. Sosiologi Pendidikan, yakni suatu cabang sosiologi yang secara khusus mempelajari fenomena kehidupan masyarakat yang berhubungan dengan perilaku pendidikan.
  4. Sosiologi ekonomi, yakni suatu cabang sosiologi yang secara khusus mempelajari fenomena kehidupan masyarakat yang berhubungan dengan perilaku ekonomi.
  5. Dan lain sebagainya.
     Berdasarkan sifat dan hakikatnya sebagai ilmu, sosiologi memiliki beberapa karakteristik diantaranya adalah sebagai berikut:
  1. Sosiologi tidak memiliki konsep maupun teori yang tetap dan pasti karena objek kajiannya adalah masyarakat yang bersifat dinamis dan majemuk. Pada dasarnya ilmu-ilmu sosial memang tidak memiliki konsep dan teori yang tetap dan pasti. Hal ini berbeda dengan ilmu-ilmu alam yang memiliki rumus, dalil, konsep, dan teori yang relatif lebih pasti. Misalnya, dalam mengkaji masalah perilaku menyimpang atau kenakalan remaja akan terdapat beberapa pendapat sesuai dengan sudut pandang yang dipergunakan oleh sosiolog yang bersangkutan.
  2. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang bersifat kategoris, yakni terbatas dalam hal mengkaji sesuatu yang telah terjadi dalam kehidupan masyarakat. Dengan demikian sosiologi tidak memiliki kemampuan untuk membuat suatu prediksi terhadap sesuatu yang belum terjadi. Sosiologi bukan merupakan ilmu pengetahuan yang mengkaji tentang segala sesuatu yang seharusnya terjadi. Misalnya, keanekaragaman budaya dan adat istiadat yang dimiliki oleh bangsa Indonesia memang merupakan suatu yang secara turun temurun diwarisi dari nenek moyang bangsa Indonesia.
  3. Sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang bersifat umum, yakni memusatkan perhatiannya terhadap gejala-gejala sosial yang bersifat universal.
  4. Sebagai konsekuensi dari poin (3) di atas, maka sosiologi merupakan ilmu murni (pure science) yang bersifat teoritis. Sebagai ilmu murni (pure science), sosiologi membatasi diri dari percoalan-persoalan yang bersifat penilaian. Artinya, teori-teori sosiologi tidak dipergunakan untuk menilai atau menjelaskan segi-segi moral dari suatu fenomena sosial. Sosiologi sebatas mendeskripsikan fenokena sosial berdasarkan hukum sebab akibat (kausalitas). Sosiologi berasifat teoritis, bahwa fenomena kehidupan masyarakat sebagai objek sosiologi dikaji secara ilmiah, konseptual, dan teoritis.
Sosiologi Sebagai Metode

     Selain sebagai ilmu, sosiologi juga merupakan metode. Dengan demikian, sosiologi setidaknya harus mencakup pengetahuan dasar tentang: 
  1. kedudukan dan peran sosial individu dalam keluarga, kelompok sosial, dan masyarakat, 
  2. nilai-nilai dan norma-norma sosial yang mendasari dan sekaligus mempengaruhi sikap dan perilaku hubungan-hubungan sosial dalam masyarakat, 
  3. masyarakat dan kebudayaan daerah sebagai submasyarakat dan kebudayaan nasional Indonesia, 
  4. perubahan sosial budaya yang terus menerus berlangsung, baik yang disebabkan oleh faktor-faktor internal maupun faktor- faktor eksternal.
  5. masalah-masalah sosial budaya yang ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
     Untuk mengkaji masalah-masalah sosial yang mendasar seperti di atas sosiologi mengembangkan suatu metode penelitian yang dikenal dengan istilah metode sosiologi. Metode yang dipakai dalam penelitian sosiologi pada umumnya lebih dari satu metode keilmuan mengingat kompleksitas fenomena masyarakat yang menjadi objek penelitian.

     Adapun metode yang lazim dipakai dalam penelitian sosiologi antara lain:

1.Metode kualitatif, merupakan metode sosiologi yang menekankan pengumpulan data yang berupa kata-kata. Terdapat tiga macam metode kualitatif, yakni metode historis, metode komparatif, dan metode studi kasus.

a.Metode historis adalah metode yang dipergunakan untuk mencari dan sekaligus menganalisis data yang berupa peristiwa-peristiwa yang terjadi pada masa yang lampau dalam rangka memperoleh gambaran umum tentang fenomena kehidupan masyarakat yang terjadi pada masa silam. Contohnya adalah penelitian tentang pengaruh kolonialisme dalam peri kehidupan masyarakat Indonesia. Masalah seperti itu dapat dikaji dengan menggunakan metode historis.

b.Metode komparatif adalah metode sosiologi yang dikembangkan melalui kegiatan perbandingan terhadap fenomena-fenomena yang terjadi dalam suatu masyarakat. Metode komparatif dapat bersifat horisontal meupun bersifat vertikal. 

     Metode komparatif horisontal dapat dilakukan dengan cara melakukan studi perbandingan terhadap fenomena yang terjadi pada masyarakat yang satu dengan fenomena yang terjadi pada masyarakat yang lain dalam waktu yang bersamaan. 

     Metode komparatif vertikal dapat dilakukan dengan cara melakukan studi perbandingan terhadap fenomena yang terjadi pada masyarakat sekarang dengan fenomena yang terjadi pada masyarakat pada masa yang lampau.

c.Metode studi kasus merupakan suatu penelitian yang dilakukan terhadap suatu masyarakat tertentu dalam rangka mengkaji secara mendalam fenomena-fenomena yang terjadi dalam kehidupan masyarakat tersebut.

2.Metode kuantitatif adalah metode penelitian yang menekankan pengumpulan data dalam bentuk angka-angka. Tujuan penelitian kuantitatif adalah untuk mengukur gejala-gejala sosial dengan ukuran-ukuran yang jelas. Terdapat dua macam metode kuantitatif, yaitu metode statistik dan metode sociometry.

a.Metode statistik adalah metode penelitian yang bertujuan untuk mengkaji fenomena sosial melalui data-data statistik.
b.Metode sociometry adalah metode penilitian yang bertujuan untuk mencari hubungan-hubungan antarmanusia dalam kehidupan masyarakat secara kuantitatif.

3.Metode induktif adalah metode penelitian yang dipergunakan untuk mengkaji fenomena masyarakat dengan suatu proses yang dimulai dari kajian-kajian terhadap fenomena-fenomena yang secara khusus terjadi dalam kehidupan masyarakat untuk dipergunakan sebagai pertimbangan dalam mengambil kesimpulan umum.

4.Metode deduktif adalah metode penelitian yang dipergunakan untuk mengkaji fenomena masyarakat dengan suatu proses yang dimulai dari kaidah-kaidah umum untuk dijadikan alat dalam mengkaji fenomena-fenomena yang secara khusus terjadi dalam kehidupan masyarakat.

5.Metode empiris adalah metode penelitian yang dilakukan dengan cara yang intensif dan sistematis dalam rangka menggali kenyataan-kenyataan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat (data-data empiris). Metode empiris tersebut dipergunakan untuk memperoleh pengetahuan yang lengkap mengenai permasalahan yang berkembang dalam kehidupan masyarakat.

     Sekian ulasan saya mengenai sosiologi sebagai ilmu serta sosiologi sebagai metode. Semoga bermanfaat.
Baca Selengkapnya

Perkembangan Sosiologi

Perkembangan Sosiologi



     Sosiologi merupakan suatu ilmu yang mempelajari tentang kehidupan masyarakat. Dengan demikian, dinamika sosial yang berkembang dalam kehidupan masyarakat sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta perkembangan industrialisasi, sangat berpengaruh bagi perkembangan ilmu sosiologi. 

     Sudah barang tentu dinamika sosial serta akibat-akibat yang ditimbulkan, baik yang bersifat positif maupun yang bersifat negatif, akan selalu menarik perhatian bagi kalangan sosiolog. Beberapa persoalan seperti munculnya kelas-kelas sosial, berkembangnya kriminalitas, berkembangnya urbanisasi, berkembangnya kemiskinan, dan lain sebagainya mendapat perhatian secara serius oleh para sosiolog melalui kegiatan penelitian. Kegiatan penelitian yang dilaksanakan secara terus menerus seperti itulah yang mendorong berkembangnya ilmu sosiologi.

1.Perkembangan Sosiologi


Perkembangan Sosiologi
     Benih-benih perkembangan ilmu sosiologi sudah mulai terlihat sejak abad ke-19, yakni dipelopori oleh Auguste Comte (1789-1857). Pemikir berkebangsaan Perancis tersebut telah berusaha untuk mengembangkan prinsip-prinsip dasar ilmu pengetahuan alam untuk digunakan dalam pengembangan ilmu pengetahuan sosial. Menurut Auguste Comte: jika metode-metode yang digunakan untuk mempelajari gejala-gejala alam dipergunakan pula untuk mempelajari gejala-gejala sosial, maka persoalan-persoalan sosial akan dapat dipelajari dan diatasi.

     Apa yang diusahakan oleh Comte tersebut mendapat perhatian secara luas oleh ilmuwan-ilmuwan lain yang tertarik pada masalah-masalah sosial seperti Herbert Spencer (Inggris), Emile Durkheim (Perancis), Max Weber (Jerman), dan lain sebagainya. Akhirnya beberapa tokoh tersebut sepakat untuk menyebut ilmu pengetahuan yang mengkaji masalah-masalah sosial dengan istilah sosiologi. Pada akhir abad ke-20 ilmu sosiologi mengalami perkembangan yang sangat menggembirakan.

     Di Indonesia, sebelum kemerdekaan sesungguhnya kajian-kajian tentang sosiologi sudah sering dilakukan. Di beberapa lembaga perguruan tinggi, sosiologi diajarkan sebagai pelengkap mata kuliah ilmu hukum. Setelah Indonesia merdeka, tepatnya pada tahun 1948, untuk pertama kalinya seorang ilmuwan Indonesia, Soenario Kolopaking, mengajarkan sosiologi kepada para mahasiswa Akademi Ilmu Politik di Yogyakarta. Tidak lama setelah itu sosiologi mengalami perkembangan yang sangat pesat yang ditandai dengan munculnya sosiolog-sosiolog berkebangsaan Indonesia seperti Djody Gondokusumo, Hasan Shadily, Selo Soemardjan, Soelaeman Soemardi, dan lain sebagainya.

2.Beberapa Pelopor dalam Bidang Sosiologi

     Tokoh-tokoh yang mempelopori muncul dan berkembangnya sosiologi sangatlah banyak. Pada kesempatan ini akan ditampilkan sebagian kecil dari para tokoh pelopor yang banyak berperan dalam meletakkan dasar-dasar ilmu sosiologi dan sekaligus mengembangkannya.

a.Auguste Comte (1798-1857) 

     Orang yang pertama kali memberikan nama sosiologi adalah Auguste Comte. Berkat jasa-jasanya yang besar dalam meletakkan dasar-dasar ilmu sosiologi, Auguste Comte dianggap sebagai Bapak Sosiologi. Menurut pemikirannya, sosiologi terdiri atas dua bagian penting, yaitu social statistic dan social dynamics. Sebagai social statistic, sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari hubungan timbal balik antara lembaga-lembaga sosial. Sedangkan sebagai social dynamics, sosiologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari perkembangan lembaga-lembaga sosial yang ada di tengah-tengah masyarakat. Auguste Comte beranggapan bahwa fenomena sosial yang terjadi dalam kehidupan masyarakat harus dikaji secara objektif, yakni didasarkan kepada kenyataan yang benar-benar terjadi dalam kehidupan masyarakat.

b.Herbert Spencer (1820-1803)

     Herbert Spencer merupakan seorang pemikir berkebangsaan Inggris. Pemikiran-pemikirannya tentang ilmu sosiologi terutama dituangkan dalam bukunya yang berjudul The Principles of Sociology. Menurut pandangannya, sosiologi harus menyoroti hubungan timbal balik antara berbagai unsur yang membentuk masyarakat, seperti sistem nilai, sistem norma, lembaga keluarga, lembaga politik, dan lembaga keagamaan.

c.Emile Durkheim (1858-1917)

     Pemikir berkebangsaan Perancis ini beranggapan bahwa sosiologi merupakan ilmu pengetahuan sosial yang meneliti tentang lembaga-lembaga sosial dan sekaligus proses- proses sosial. Pemikiran-pemikirannya yang mendalam tentang ilmu sosiologi telah memungkinkan ilmu ini berkembang menjadi beberapa cabang, yakni sosiologi umum, sosiologi agama, sosiologi hukum, sosiologi kesehatan, sosiologi ekonomi, sosiologi demografi, dan sosiologi estetika.

d.Max Weber (1864-1920)

     Max Weber merupakan sosiolog berkebangsaan Jerman. Pemikir ini telah melakukan pengkajian tentang perilaku manusia serta melakukan pengkajian terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan sebab-akibat terjadinya interaksi sosial. Menurutnya, sosiologi merupakan ilmu yang berusaha memberikan pengertian tentang aksi dan reaksi yang terjadi dalam kehidupan sosial. Max Weber juga dikenal sebagai tokoh yang memelopori terbentuknya metode sosiologi.

     Sekian ulasan saya mengenai perkembangan sosiolagi serta beeberapa pelopor dalam bidang sosiologii. Semoga bermanfaat.
Baca Selengkapnya

Rabu, 13 Mei 2015

Sosialisasi

Sosialisasi



     Sosialisasi bisa diartikan sebagai proses belajar bertingkah laku berdasarkan patokan yang terdapat di masyarakat. Secara singkat, sosialisasi di artikan seperti itu. Tapi ko masih kurang ya? Tenang sobat, pada kesempatan kali ini, Zona Siswa akan mencoba menjelaskan apa itu sosialisasi serta macam dan tujuannya secara lengkap. Semoga bermanfaat. Yukkk Check this out!!!

Pengertian Sosialisasi

     Seperti yang disinggung di pendahuluan di atas, sosialisasi merupakan proses belajar mengajar mengenai pola-pola tindakan interaksi dalam masyarakat sesuai dengan peran dan status sosial yang dijalankan masing-masing. Dengan proses itu, individu akan mengetahui dan menjalankan hak dan kewajibannya berdasarkan peran status masing-masing dan kebudayaan suatu masyarakat.

     Melalui proses belajar semacam ini, seseorang juga mempelajari kebiasaan-kebiasaan, norma-norma, perilaku, peran, dan semua aturan yang berlaku di masyarakat. Proses mempelajari unsur-unsur budaya suatu masyarakat inilah yang disebut dengan sosialisasi.

1.Soejono Dirdjosisworo

     Menurut pendapat Soejono Dirdjosisworo (1985), sosialisasi mengandung tiga pengertian penting, yaitu:

  • Proses sosialisasi adalah proses belajar, yaitu suatu proses akomodasi yang mana individu menahan, mengubah impulsimpuls dalam dirinya dan mengambil cara hidup atau kebudayaan masyarakatnya.
  • Dalam proses sosialisasi itu individu mempelajari kebiasaan, sikap, ide-ide, pola-pola nilai dan tingkah laku, dan ukuran kepatuhan tingkah laku di dalam masyarakat di mana ia hidup.
  • Semua sifat dan kecakapan yang dipelajari dalam proses sosialisasi itu disusun dan dikembangkan sebagai suatu kesatuan dalam diri pribadinya.

2.Charlotte Buhler

     Sosialisasi adalah sebuah proses yang membantu individu-individu belajar dan menyesuaikan diri terhadap bagaimana cara hidup dan bagaimana cara berpikir kelompoknya, agar ia dapat berperan dan berfungsi dalam kelompoknya.

3.Peter L. Berger

     Sosialisasi adalah suatu proses seorang anak belajar menjadi anggota yang berpartisipasi dalam masyarakat.

4.Robert M.Z. Lawang

     Sosialisasi adalah proses mempelajari norma, nilai, peran, dan semua persyaratan lainnya yang diperlukan untuk memungkinkan berpartisipasi yang efektif dalam kehidupan sosial.

5.Prof. Dr. Nasution, S.H.

     Sosialisasi adalah proses membimbing individu ke dalam dunia sosial.

6.Sukandar Wiraatmaja, M.A.

     Sosialisasi adalah suatu proses yang dimulai sejak seseorang itu dilahirkan untuk dapat mengetahui dan memperoleh sikap, pengertian, gagasan, dan pola tingkah laku yang disetujui oleh masyarakat.

7.Drs. Suprapto

     Sosialisasi adalah suatu proses belajar berinteraksi dalam masyarakat sesuai dengan peranan yang dijalankan.

8.Hasan Shadily

     Sosialisasi adalah proses di mana seseorang mulai menerima dan menyesuaikan diri terhadap adat istiadat suatu golongan. Di mana lambat laun ia akan merasa sebagian di golongan itu.

9.Jack Levin dan James L. Spates

     Sosialisasi adalah proses di mana kebudayaan diteruskan dan diinternalisasikan oleh kepribadian individu.

10.John C. Macionis

     Sosialisasi adalah pengalaman sosial seumur hidup, di mana individu dapat mengembangkan potensinya dan mempelajari pola-pola kebudayaan mereka.

11.Edwar A. Ross

     Sosialisasi adalah pertumbuhan perasaan ”kita”. Di mana perasaan ini akan menimbulkan tindakan segolongan.

12.Laurence

     Sosialisasi adalah proses pendidikan atau latihan seseorang yang belum berpengalaman dalam suatu kebudayaan dan berusaha menguasai kebudayaan sebagai aspek berikutnya.

13.Bruce J. Cohen 

     Sosialisasi dipahami sebagai proses pembelajaran seorang individu terhadap nilai-nilai dan norma-norma yang ada dalam masyarakat sehingga seseorang menjadi bagian dari masyarakat.

Macam-macam Sosialisasi

     Proses sosialisasi berlangsung sepanjang hayat manusia. Secara garis besar sosialisasi dibedakan menjadi dua macam, yaitu sosialisasi primer dan sosialisasi skunder.

1.Sosialisasi Primer

     Sosialisasi primer merupakan proses sosialisasi yang pertama dan utama yang terjadi pada seseorang, yakni sejak dilahirkan, berkenalan dan sekaligus belajar bermasyarakat sehingga dapat menyesuaikan diri dalam kehidupan masyarakat tersebut. Proses sosialisasi ini dimulai dari sosialisasi di lingkungan keluarga.

2.Sosialisasi Skunder

     Setelah menjalani sosialisasi primer, individu dianggap cukup mempunyai bekal untuk bergaul di lingkungan yang lebih luas. Individu kemudian berinteraksi dengan orang-orang di luar lingkungan keluarganya. Individu tersebut bergaul dengan teman-teman sebaya atau orang-orang dewasa lain. Dari pergaulan tersebut individu menyerap hal-hal baru yang ada di masyarakat. Sosialisasi tahap lanjut yang memperkenalkan individu tersebut ke wilayah baru dari dunia masyarakat disebut sosialisasi sekunder.

Tujuan Sosialisasi

     Tujuan sosialisasi sebagai berikut.

  • Memberikan keterampilan dan pengetahuan kepada seseorang untuk dapat hidup bermasyarakat.
  • Mengembangkan kemampuan seseorang untuk dapat berkomunikasi secara efektif dan efisien.
  • Membuat seseorang mampu mengembalikan fungsi-fungsi melalui latihan introspeksi yang tepat.
  • Menanamkan nilai-nilai dan kepercayaan kepada seseorang yang mempunyai tugas pokok dalam masyarakat.
     Sekian ulasan saya mengenai pengertian sosialisasi, macam-macam sosialisasi serta tujuan sosialisasi. Semoga bermanfaat.
Baca Selengkapnya

Konsep Realitas Sosial yang Dipelajari oleh Sosiologi

Konsep Realitas Sosial yang Dipelajari oleh Sosiologi



     Sosiologi adalah suatu studi ilmiah tentang kehidupan sosial manusia. Sosiologi mempelajari gejala-gejala sosial dalam masyarakat. Gejala-gejala sosial yang muncul dalam masyarakat baik yang teratur maupun yang tidak teratur disebut dengan realitas sosial dalam masyarakat. Konsep-konsep realitas sosial yang dipelajari oleh sosiologi adalah:

1.Keluarga

     Keluarga merupakan kesatuan sosial yang dipersatukan oleh ikatan perkawinan darah, terdiri atas suami, istri dan anak-anak.

Konsep Realitas Sosial yang Dipelajari oleh Sosiologi
    Karakteristik keluarga adalah sebagai berikut:

  1. Keluarga dipersatukan oleh ikatan perkawinan, hubungan darah atau adopsi
  2. Anggota keluarga biasanya hidup dalam satu rumah tangga
  3. Melakukan interaksi dan komunikasi
  4. Mempertahankankan suatu kebudayaan bersama sekaligus menciptakan kebudayaan.

Bentuk keluarga

a.Keluarga inti (Keluarga batih), merupakan bentuk keluarga berdasarkan perkawinan tunggal, yang terdiri dari seorang Bapak, seorang ibu beserta anak-anaknya.

b.Keluarga besar, adalah bentuk keluarga , baik tunggal maupun berdasarkan bentuk perkawinan jamak (poligami) yang terdiri dari seorang Bapak, beberapa orang ibu atau kebalikannya, atau ditarik dari satu keturunan dengan seluruh keturunannya. Tugas Keluarga adalah:

  • Tugas sosial biologis (untuk memenuhi kebutuhan biologis guna melanjutkan keturunan dan menyalurkan kasih sayang)
  • Tugas sosial kultural (sebagai media pewarisan budaya)
  • Tugas sosial ekonomi (untuk memenuhi kebutuhan kebutuhan hidup)
  • Tugas sosial religius (sebagai bagian daripada kehidupan sosial beragama)

2.Masyarakat


Konsep Realitas Sosial yang Dipelajari oleh Sosiologi     Masyarakat adalah sekelompok manusia yang permanen, melakukan interaksi antar individu dengan individu, individu dengan kelompok atau kelompok dengan kelompok.

     Menurut Koentaraningrat, masyarakat adalah : kesatuan keseluruhan hidup manusia yang berinteraksi menurut suatu sistem, adat istiadat yang bersifat kontinu, dan terikat oleh suatu rasa identitas tertentu. Masyarakat memiliki unsur-unsur sebagai berikut:

  • Ada sejumlah orang yang berkumpul di suatu tempat tertentu
  • Saling berinteraksi dalam waktu yang relatif lama
  • Pola interaksinya menurut sistem adat tertentu
  • Pola kontinuitas dari proses interaksi menurut adat istiadat
  • Ada keterakaitan suatu rasa identitas bersama

     Dalam mempelajari masyarakat Sosiologi berarti mempelajari Jaringan hubungan antar manusia dalam hidup bermasyarakat, maka sosiologi dapat dijelaskan secara grafis definitif sebagai berikut:

3.Komunitas


Konsep Realitas Sosial yang Dipelajari oleh Sosiologi
     Komunitas adalah satuan sosial yang didasari oleh lokalitas, mempunyai ikatan solideritas yang kuat antar anggotanya sebagai akibat kesamaan tempat tinggal, memiliki perasaan membutuhkan satu sama lain, serta keyakinan tanah di mana tempat mereka tinggal memberikan kehidupan kepada mereka (Community Sentiment). Unsur-unsur sentimen komunitas terdiri dari: Unsur perasaan, unsur sepenanggungan dan unsur memerlukan. Contoh, para tenaga kerja Indonesia yang kerja di negara asing, para pelajar Indonesia yang sedang belajar di luar negeri.

4.Asosiasi

     Asosiasi atau perkumpulan adalah suatu kehidupan bersama antarindividu dalam suatu ikatan. Kumpulan orang atau sekelompok individu dapat dikatakan kelompok sosial apabila memenuhi faktor-faktor sebagai berikut :

  1. kesadaran akan kondisi yang sama, 
  2. adanya relasi sosial,
  3. dan orientasi pada tujuan yang telah ditentukan.

     Apabila kelompok sosial dianggap sebagai sebuah kenyataan di masyarakat, maka individu merupakan kenyataan yang memiliki sikap terhadap kelompok tersebut sebagai suatu kenyataan subjektif. Di dalam masyarakat yang sudah kompleks, biasanya individu menjadi kelompok sosial tertentu yang secara otomotis pula menjadi anggota beberapa kelompok sekaligus, misal atas dasar keturunan, jenis kelamin atau kekerarabatan tertentu. 

     Keanggotaan mereka dalam kelompok dilakukan secara individual dengan persyaratan keang-gotaannya secara sukarela. Asosiasi dapat dikatakan juga sebagai perkumpulan. Sebagai contoh perkumpulan wasit/pelatih/instruktur olah raga nasional.

     Kelompok sosial dilihat dari bentuknya dapat kita kelompokan sebagai berikut:

a.Menurut besar kecilnya kelompok dan jumlah anggotanya

  1. Small Group, yaitu kelompok yang terdiri sekurang-kurangnya dua orang, masing-masing menjalin hubungan untuk mencapai tujuan tertentu. Contoh, Keluarga inti.
  2. Klik (Clique), yaitu kelompok kecil yang terbentuk dari suatu kelompok yang lebih besar, karena frekuensi hubungan yang relatif tinggi atau sering bertemu. Contoh, Sekelompok siswa di kelas.
  3. Cressive Group, yaitu kelompok yang timbul karena reaksi spontan, terbentuk karena ketidaksengajaan, memiliki kepentingan yang sama dan tujuan yang sama, serta tempat tinggal yang berdekatan.Contoh Rukun tetangga.
  4. Partai, yaitu kumpulan orang yang mempunyai asas, haluan dan tujuan yang sama. Tujuan yang dicapai oleh partai adalah untuk kepentingan para anggotanya (public goals) dan bukan tujuan perorangan (private goals). Contoh, Partai Keadilan Sejahtera, Partai Nasional Indonesia dan partai-partai politik peserta pemilu lainnya.
  5. Massa, yaitu kelompok yang jumlahnya tidak diperhatikan. Contoh Sekelompok karwayan PT DI yang sedang melakukan demonstrasi di Bundaran HI.
  6. Publik, secara umum artinya khalayak ramai. Jumlah dan bentuknya serupa dengan massa.

 b.Kelompok menurut terbentuknya.

     Seringkali kita melihat sekelompok orang yang banyak yang berkelompok,
terbentuknya kelompok ini biasanya tidak disengaja dan tidak disadari tetapi memiliki kesamaan ciri atau tujuan. Kelompok demikian dapat dilihat dari dasar terbentuknya yaitu:

1).Kelompok semu, kelompok yang tidak teratur dan kelompok sementara.

  1. Kerumunan
  2. Massa
  3. Public

2).Kelompok Nyata

  1. Kelompok Statistik
  2. Kategori sosial
  3. Kelompok sosial
  4. Kelompok formal
  5. Kelompok menurut erat longgarnya ikatan hubungan para anggotanya.

     Kelompok masyarakat ini biasanya didasarkan pada intensitas dan kualitas pertemuan yang dilakukan oleh anggota kelompok. Lama kelamaam kelompok ini berkembang luas dan kelompok didasarkan pada erat atau tidaknya hubungan antar para anggota.

  1. Kelompok paguyuban (Gemeinschaft) adalah suatu bentuk kehidupan bersama yang tiap-tiap anggota diikat oleh hubungan batin yang murni, bersifat alamiah dan kekal. Dasar hubungannya adalah rasa cinta dan rasa kesatuan bathin, yang memang telah dikodratkan dan bersifat nyata dan organis.Contoh Partai Politik, Rukun Warga.
  2. Kelompok patembayan (Gesellschaft); Patembayan merupakan ikatan lahir yang bersifat pokok untuk jangka waktu yang pendek, terdapat pada hubungan yang bersifat timbal balik, contoh ikatan antar para pedagang.
  3. Kelompok utama (Primary group) adalah hubungan antar individu dalam kelompok yang sangat erat, mereka saling mengenal dan saling berhubungan langsung (face to face) sehingga sering disebut kelompok tatap muka (face to face group).Contoh keluarga luas.
  4. Kelompok Sekunder (Secondary Group) adalah hubungan antar individu dalam kelompok ini hampir tidak ada, kalaupun ada longgar sekali. Setiap anggota masih mengingat kepentingan sendiri. Hubungan ini terjadi karena adanya pamrih dan perhitungan laba rugi. Contoh kehidupan masyarakat di pasar.

c.Kelompok menurut sifat dan skup aktivitasnya

     Kelompok ini berdasarkan sifat yang dimiliki oleh setiap anggota kelompok dan lingkup aktivitas dari pada kelompok ini. Biasanya kelompok ini didasarkan pada sifat dan aktivitas kekeluargaan.

  1. Kelompok kerukunan; Di dalam kelompok ini terdapat sifat rukun dan guyub seperti paguyuban. Dalam berbagai bidang anggota-anggota kelompok tidak mempunyai pamrih tertentu. Dalam adat Jawa ada istilah “pirukunan” misalnya “nyumbang” dan tidak mengutamakan untung dan rugi. Contoh, kerabat, marga dan keluarga.
  2. Kelompok perikatan; Di dalam kelompok perikatan, semua individu yang menjadi anggota mempunyai sifat kerukunan ke dalam yang erat sekali, rasa setia kawan dan kesatuan yang kuat. Bedanya dengan kelompok kerukunan ialah hubungan kewibawaan yang ada pada yang memerin-tah dan yang diperintah. Contoh, Perikatan adat “Rumah Gadang”.
  3. Kelompok persekutuan; Kelompok kerukunan dan kelompok perikatan merupakan lawan dari kelompok persekutuan. Kelompok kerukunan dan kelompok perikatan guyubnya hanya ke dalam. Sedangkan kelompok persekutuan sifat rukunnya ke luar. Individu-individu dalam kelompok ini koordinasinya sejajar dan titik beratnya serta fungsi terletak pada sudut kepentingan dan tujuannya.
  4. Kelompok kami atau kelompok dalam (In group); Pada kelompok ini individu mengidentifikasikan dirinya berdasarkan kepentingan. Misalnya seorang individu di dalam suatu desa secara tidak langsung menjadi anggota kelompok kami yang dilawankan dengan warga desa lain sebagai kelompok lainnya.
  5. Kelompok mereka atau Kelompok Luar (Out group); Sifat dalam anggota out group selalu ditandai dengan suatu perbedaan atau lebih sering dengan pertentangan (antagonisme) dan rasa antipati (tidak suka). Contoh dalam pertandingan sepak bola, terdapat kelompok luar yaitu kelompok dari lawan.
  6. Formal group; Sifat dari kelompok ini adalah resmi, maksudnya memiliki peraturan yang tegas dan sengaja diciptakan oleh para anggotanya untuk mengatur hubungan di antara mereka. Setiap anggota memiliki kedudukan, tugas dan kewajiban seperi yang diatur dalam peraturan yang diciptakan. Contoh, OSIS.
  7. Informal group adalah kelompok orang yang secara fisikmenjadi anggota kelompok tersebut. Contoh setiap siswa di sekolah adalah anggota Osis atau siswa berada dikelas X.1 menjadi anggota kelas X.1.
  8. Reference group; Kelompok referensi merupakan kelompok yang menjadi ukuran bagi seseorang yang bukan anggota kelompok untuk membentuk pribadi dan kepribadianya. Kelompok cendikiawan, ulama dan pelajar.
  9. Suku bangsa adalah gabungan sosial yang didasarkan pada kesadaran akan kesamaan identitas, asal-usul, sejarah, tempat dan perbedaan kebudayaan.Contoh suku Aceh, Suku Sunda.
     Sekian ulasan saya mengenai konsep realitas sosial yang dipelajari oleh sosiologi, mulai dari keluarga, masyarakat, komunitas serta asosiasi. Semoga bermanfaat.
Baca Selengkapnya