Tampilkan postingan dengan label Antropologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Antropologi. Tampilkan semua postingan

Selasa, 30 Juni 2015

Hubungan antara Karya Seni, Seniman dan Masyarakat

Hubungan antara Karya Seni, Seniman dan Masyarakat



     Hubungan antara karya seni, seniman, dan masyarakat terlihat pada sikap atau apresiasi pelaku seni dan masyarakat terhadap kesenian. Menurut Koentjaraningrat, apresiasi seni tidak sama bagi semua orang. Tetapi walaupun demikian, beberapa ahli Antropologi mengemukakan satu hipotesa bahwa ada unsur pokok atau unsur dasar yang mempunyai hubungan universal. 

     Perasaan estetis merupakan suatu kecenderungan manusia untuk bersikap terhadap segala sesuatu yang menyenangkan, mengharukan, dan menakjubkan terhadap desain, warna, proporsi, harmoni, dan kesatuan. Apa saja yang menjadi unsur-unsur karya seni itu? Terdapat empat unsur murni yang menguasai semua karya seni yaitu kesatuan, ritme, simetri, dan keseimbangan.
Hubungan antara Karya Seni, Seniman, dan Masyarakat

     Bagaimana hubungan antara karya seni dengan masyarakat? Coba kamu pikirkan. Suku bangsa yang hidupnya masih mengembara misalnya, tidak akan sempat mengembangkan kesenian secara umum dan seni pahat pada umumnya. Seni pahat atau seni ukir membutuhkan suatu cara hidup yang menetap. Hanya musik, tari-tarian, drama, atau upacara yang erat hubungannya dengan semua macam cara hidup.

     Dalam masyarakat yang masih tradisional, kesenian merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari. Seni terjalin dengan kerja biasa dan dalam ritual religius. Upacara religius menyebabkan orang harus menyanyikan lagu-lagu indah, harus memakai pakaian tertentu, dan harus menjalankan gerakan-gerakan badan yang sangat teliti dan ditentukan pula. 

     Dalam masyarakat yang kompleks, sudah ada pembagian kerja dan semua orang berpikir secara bebas maka kesenian merupakan salah satu aspek dari kehidupan yang dilakukan secara terpisah dari aspek lain. Pekerjaan seni dilakukan oleh para seniman yang memiliki bakat atau keahlian yang diperolehnya secara otodidak maupun melalui pendidikan seni khusus. 

     Oleh karena itu, hidup matinya kesenian modern tergantung bagaimana apresiasi masyarakat terhadap hasil karya seni para seniman. Sikap atau apresiasi seni dapat kita bagi menjadi dua yaitu sikap terhadap kesenian tradisional dan sikap terhadap kesenian modern.

A.Sikap terhadap Kesenian Tradisional

     Pelaku seni dan masyarakat masih memberikan apresiasi yang baik terhadap kesenian tradisional. Para pelaku seni banyak yang membentuk paguyuban atau kelompok yang bergerak pada bidang seni.

     Contohnya adalah Karawitan, Wayang kulit, Wayang orang, Wayang Golek, Reog, Ludruk, tari saman, tari Bali, dan lain sebagainya. 

     Para peminat seni tradisional juga masih banyak. Mereka cenderung banyak meluangkan waktu untuk menikmati pertunjukan wayang, ludruk, gamelan, tarian daerah, menikmati peninggalan bersejarah seperti candi-candi, dan sebagainya.

B.Sikap terhadap Kesenian Modern

     Para pelaku seni dan masyarakat di Indonesia pada umumnya memberikan apresiasi yang positif terhadap segala macam bentuk kesenian. Apresiasi positif tersebut diberikan juga terhadap kesenian modern, baik itu bagi seni rupa maupun seni suara. Pelaku seni juga semakin banyak bermunculan. Seni suara terutama, bermunculan pelaku seni dengan aliran musik yang beragam. Aliran musik yang memiliki peminat terbanyak saat ini adalah dangdut.

     Pelaku seni dan peminat musik pada dangdut semakin bertambah dari masa ke masa. Untuk kelompok-kelompok musik beraliran pop atau pop rock juga semakin banyak bermunculan. Peminat musik terhadap kelompok-kelompok musik tersebut juga memberikan apresiasi yang sangat baik.

     Untuk pelaku seni bidang perfilman dan sinematografi juga telah semakin kokoh menginjak dunia seni mengembangkan sayap untuk meningkatkan kualitasnya. Tak kalah baiknya juga apresiasi masyarakat terhadap hasil perfilman dan sinematografi Indonesia.

     Sekian ulasan saya mengenai hubungan antara karya seni, seniman, dan masyarakat, mulai dari sikap terhadap kesenian tradisional serta sikap terhadap kesenian modern. Semoga bermanfaat.
Baca Selengkapnya

Bentuk-bentuk Kesenian

Bentuk-bentuk Kesenian


     Bagi kamu yang menyukai musik, mungkin kamu terbiasa mendengarkan lagu-lagu dari radio, handphone, atau menonton konser musik penyanyi favorit kamu. Dari siaran televisi, kamu juga biasa menikmati berbagai bentuk kesenian, mulai dari film hingga pertunjukkan lawak. Mungkin, kamu juga pernah menonton pameran-pameran seni lukis dan kerajinan. 

     Begitu banyak bentuk kesenian di sekitar kita, mulai dari yang tradisional hingga kesenian kontemporer. Biasanya, antropolog menyoroti seni sebagai suatu gejala kebudayaan, yaitu dengan aktivitas menyusun katalog, memotret, mencatat, dan mendeskripsikan seluruh bentuk kegiatan imajinatif pada suatu kebudayaan tertentu. 

     Hasil imajinasi tersebut adalah berbagai jenis seni seperti musik, tarian sosial, legenda, pakaian, selimut, gaya tembikar, hiasan bangunan, monumen, dan lain-lain. Namun secara garis besar, beberapa bentuk kesenian tersebut dapat digolongkan sebagai berikut.

A.Seni Rupa


     Seni rupa merupakan cabang seni yang membentuk karya seni yang bisa ditangkap oleh mata dan dirasakan dengan rabaan. Kesan yang diberikan oleh seni rupa merupakan hasil olahan dari konsep garis, bidang, bentuk, volume, warna, tekstur, dan pencahayaan dengan acuan estetika. 
Macam-macam Seni Rupa

     Secara kasar, terjemahan seni rupa dalam bahasa Inggris adalah fine art. Namun, sesuai perkembangan seni modern istilah ini menjadi lebih khusus kepada pengertian seni rupa murni. Hal ini untuk membedakan dengan istilah seni kriya atau visual arts.

     Apabila dilihat dari ukurannya, seni rupa dapat berbentuk dua dimensi atau tiga dimensi. Seni rupa dua dimensi terdiri atas satuan panjang dan lebar, misalnya lukisan atau kartun. Sedangkan seni rupa tiga dimensi terdiri atas ukuran panjang, lebar, dan tinggi misalnya patung dan kerajinan.

1).Bidang- Bidang Seni Rupa

     Bidang-bidang seni rupa terdiri atas:

a.Seni Rupa Murni

     Seni rupa murni adalah bidang seni rupa yang mengutamakan cipta, rasa dan karsa manusia pada sesuatu yang indah untuk mengekspresikan diri. Yang tergolong seni rupa murni antara lain seni lukis, seni grafis, seni patung, seni instalasi, seni keramik, seni film, dan seni fotografi.

b.Seni Rupa Terapan (Seni Kriya)

     Seni rupa terapan adalah bidang seni rupa yang menciptakan karya yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Yang tergolong seni kriya adalah kriya tekstil, kriya kayu, kriya keramik, dan kriya rotan.

c.Desain

     Seni rupa desain merupakan bidang seni rupa yang mempelajari rancang bangun atau bentuk suatu karya seni. Yang tergolong dalam seni rupa desain antara lain arsitektur, desain grafis, desain interior, desain busana, dan desain produk.

2).Fungsi Seni Rupa

     Di depan telah dijelaskan bahwa dengan berkesenian, manusia mampu mengekspresikan pikiran dan suasana lingkungan yang melingkupi dirinya. Demikian pula dengan seni rupa, bidang seni rupa memiliki beberapa fungsi atau peranan dalam kehidupan manusia, antara lain:

  1. Media atau sarana komunikasi.
  2. Media atau sarana mengekspresikan diri atau untuk mencapai kepuasan batin.
  3. Menambah keindahan barang-barang atau produk yang diciptakan manusia sehingga nilai ekonominya meningkat.
  4. Sebagai pelengkap kebutuhan hidup.
  5. Sebagai suatu kebanggaan pribadi atau individu.

B.Seni Sastra

     Banyak sekali manfaat yang diperoleh apabila kita rajin membaca. Kita akan lebih tahu banyak hal dan dengan bekal pengetahuan itu, kita akan mudah menganalisis berbagai masalah dan mampu mencari solusinya. Untuk dapat membedakan mana bacaan atau buku yang tergolong hasil karya seni sastra dan bukankita  perlu memahami pengertian seni sastra berikut ini.

1).Pengertian Seni Sastra

     Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, sastra adalah bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari). Definisi kedua menurut kamus ini adalah karya tulis, yang jika dibandingkan dengan tulisan lain, memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keaslian, keartistikan, keindahan dalam isi dan ungkapannya. Istilah sastra sendiri, berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti ”tulisan” atau ”karangan”. Sastra biasanya diartikan sebagai karangan dengan bahasa yang indah dan isi yang baik.

     Bahasa yang indah artinya bisa menimbulkan kesan dan menghibur pembacanya. Isi yang baik artinya berguna dan mengandung nilai pendidikan. Bentuk fisik dari sastra disebut karya sastra. Penulis karya sastra disebut sastrawan. Dalam Bahasa Indonesia, kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada ”kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Tetapi kata ”sastra” bisa pula merujuk kepada semua jenis tulisan, apakah ini indah atau tidak.

     Selain itu dalam arti kesusastraan, sastra bisa dibagi menjadi sastra tertulis atau sastra lisan (sastra oral). Di sini, sastra tidak banyak berhubungan dengan tulisan, tetapi dengan bahasa yang dijadikan wahana untuk mengekspresikan pengalaman atau pemikiran tertentu. Biasanya, kesusastraan dibagi menurut daerah geografis atau bahasa lokal. Misalnya, kamu yang bersekolah di Yogyakarta dan Jawa Tengah akan mempelajari sastra Jawa, teman-temanmu yang bersekolah di Jawa barat akan mempelajari sastra Sunda, dan seterusnya
.
     Dari ketiga sumber di atas, arti kata sastra selalu mengarah pada inti yang sama berikut ini:

  1. Sastra berupa bahasa, untaian kata-kata, gaya bahasa, ungkapan.
  2. Sastra tercurah dalam bentuk kitab, karya tulis, tulisan, karangan, lisan.
  3. Sastra bernilai seni, indah, artistik, asli sastra berisi ajaran, pendidikan, instruksi, dan pedoman.

2).Bidang Seni Sastra

     Seni sastra tidak hanya berhubungan dengan tulisan tetapi dengan bahasa yang dijadikan wahana untuk mengekspresikan pengalaman atau pemikiran tertentu. Oleh karena itu, seni sastra bisa dibagi menjadi dua, yaitu:

a.Seni Sastra Tulis

     Sesuai namanya, seni sastra tulis merupakan bentuk karya sastra yang dituangkan dalam bentuk tulisan, yaitu kombinasi huruf yang mempunyai makna atau arti. Banyak sekali jenis seni sastra tulisan yang berkembang di masyarakat, misalnya dalam bentuk prosa, puisi, cerita fiksi, dan essai.

b.Seni Sastra Lisan

     Seni sastra lisan disampaikan dengan bahasa lisan , yaitu dengan dituturkan secara langsung kepada pendengar, dengan atau tanpa iringan musik tertentu.

3).Fungsi Seni Sastra

     Seni sastra yang diwujudkan dalam bentuk karya sastra memiliki beberapa fungsi penting dalam masyarakat, di antaranya:

a.Sarana Menyampaikan Pesan Moral

     Sastrawan menulis karya sastra, antara lain untuk menyampaikan model kehidupan yang diidealkan dan ditampilkan dalam cerita lewat para tokoh. Dengan karya sastranya, sastrawan menawarkan pesan moral yang berhubungan dengan sifat-sifat luhur kemanusiaan, memperjuangkan hak dan martabat manusia. Sifat-sifat itu pada hakikatnya universal, artinya diyakini oleh semua manusia. Pembaca diharapkan dalam menghayati sifat-sifat ini dan kemudian menerapkannya dalam kehidupan nyata.

     Moral dalam karya sastra atau hikmah yang akan disampaikan oleh sastrawan selalu dalam pengertian yang baik karena pada awal mula semua karya sastra adalah baik. Jika dalam cerita ditampilkan sikap dan tingkah laku tokoh-tokoh yang tidak terpuji, baik mereka berlaku sebagai tokoh antagonis maupun protagonis, bukan berarti sastrawan menyarankan bertingkah laku demikian. Pembaca diharapkan dapat mengambil hikmah sendiri dari cerita. Sesuatu yang baik justru akan lebih mencolok bila dikonfrontasikan dengan yang tidak baik.

b.Sarana Menyampaikan Kritik

     Seni sastra, terutama sastra tulisan dapat menjadi sarana untuk menyampaikan kritik atas fenomena sosial maupun politik dalam masyarakat. Misalnya, novel atau puisi yang mengemukakan masalah kemiskinan, perbedaan gender antara pria dan wanita, atau kesenjangan sosial. Melalui  sastra, masyarakat pembaca menjadi berempati dan bersimpati yang pada akhirnya akan tergugah untuk berpartisipasi menyelesaikan masalah-masalah sosial tersebut.

c.Menumbuhkan Rasa Nasionalisme dan Penghargaan terhadap Kebudayaan Daerah 

     Sebagai bagian dari kebudayaan nasional, seni sastra Indonesia merupakan wahana ekspresi budaya dalam rangka upaya ikut memupuk kesadaran sejarah serta semangat nasionalisme. Semangat nasionalisme dalam seni sastra tidak hanya aktual pada masa revolusi saja, tetapi di era globalisasi yang dapat mengancam sendi-sendi nasionalisme suatu bangsa.

     Sekian ulasan saya mengenai bentuk-bentuk kesenian, mulai dari seni rupa serta seni sastra. Semoga bermanfaat.
Baca Selengkapnya

Senin, 29 Juni 2015

Bentuk Seni Rupa Yang Berkembang di Indonesia

Bentuk Seni Rupa Yang Berkembang di Indonesia


     Beberapa jenis seni rupa yang berkembang di Indonesia antara lain:

a.Seni Lukis


Seni Lukis
     Semua kebudayaan di dunia mengenal seni lukis. Ini disebabkan lukisan atau gambar sangat mudah dibuat. Sebuah lukisan atau gambar bisa dibuat hanya dengan menggunakan materi yang sederhana seperti arang, kapur, atau bahan lainnya. Salah satu teknik terkenal gambar prasejarah yang dilakukan orang-orang gua adalah dengan menempelkan tangan di dinding gua, lalu menyemburnya dengan kunyahan daun-daunan atau batu mineral berwarna.

     Hasilnya adalah jiplakan tangan berwana-warni di dinding-dinding gua yang masih bisa dilihat hingga saat ini. Kemudahan ini memungkinkan gambar (dan selanjutnya lukisan) untuk berkembang lebih cepat daripada cabang seni rupa lain seperti seni patung dan seni keramik. Akar seni lukis di Indonesia adalah kebudayaan Austronesia yang datang sekitar 5000 abad yang lalu.

     Bukti-bukti peningalan seni rupa bangsa Austronesia adalah lukisan gua yang ditemukan di beberapa situs di Papua, bagian barat Danau Sentani, Sulawesi Selatan, dan Maluku. Lukisan-lukisan itu juga ditemukan di kepulauan Kai, Tanimbar, Babar, Leti, dan Seram. Objek yang sering muncul dalam karya-karya purbakala adalah manusia, binatang, dan objek-objek alam lain seperti pohon, bukit, gunung, sungai, dan laut. 

     Bentuk dari objek yang digambar tidak selalu serupa dengan aslinya. Makna atau maksud pembuatan lukisanlukisan tersebut ditafsirkan terkait dengan perkabungan, roh nenek moyang atau roh gaib.

     Seni lukis modern dimulai dengan masuknya penjajahan Belanda di Indonesia. Kecenderungan seni rupa Eropa Barat pada zaman itu ke aliran romantisme membuat banyak pelukis Indonesia ikut mengembangkan aliran ini. Awalnya pelukis Indonesia lebih sebagai penonton atau asisten, sebab pendidikan kesenian merupakan hal mewah yang sulit dicapai penduduk pribumi. Selain itu, harga alat lukis modern sulit dicapai penduduk biasa. Salah seorang pelukis terkenal Indonesia pada era kolonial adalah Raden Saleh Bustaman Era revolusi di Indonesia membuat banyak pelukis Indonesia beralih dari tema-tema romantisme menjadi cenderung ke arah kerakyatan. 

     Objek yang berhubungan dengan keindahan alam Indonesia dianggap sebagai tema yang mengkhianati bangsa, sebab dianggap menjilat kepada kaum kapitalis yang menjadi musuh ideologi komunisme yang populer pada masa itu. Para pelukis kemudian beralih kepada potret nyata kehidupan masyarakat kelas bawah dan perjuangan menghadapi penjajah. Gerakan Manifesto Kebudayaan yang bertujuan untuk melawan pemaksaan ideologi komunisme membuat pelukis pada masa 1950-an lebih memilih membebaskan karya seni mereka dari kepentingan politik tertentu, sehingga era ekspresionisme dimulai. Lukisan tidak lagi dianggap sebagai penyampai pesan dan alat propaganda, namun lebih sebagai sarana ekspresi pembuatnya. Keyakinan tersebut masih dipegang hingga saat ini.

b.Seni Patung


     Seni rupa bangsa Indonesia dalam bentuk patung berasal pada masa megalitik yang beberapa tradisinya masih bertahan hingga saat ini. Patung-patung pada masa prasejarah umumnya melambangkan kesuburan, nenek moyang, atau pendiri kerajaan. Beberapa contoh patung tradisional adalah patung leluhur dari Pulau Nias yang memiliki ciri-ciri naturalis, wajah yang cenderung persegi, hidung persegi, dan telinga seperti dayung. 

Seni Patung     Di daerah Batak, yang paling terkemuka adalah pahatan kubur yang disebut Penunggang Batu, monumen kubur yang menggambarkan sosok sedang duduk menunggang kuda, gajah, singa, atau bentuk-bentuk gaib. Di Kalimantan, berbagai ragam dan daya khayal patung dihasilkan oleh masyarakat Dayak. Tujuannya memeringati masyarakat yang sudah meninggal atau upacara pengayuan. Sedangkan di papua, suku Asmat menghasilkan patung-patung sosok leluhur dan diletakkan di rumah adat yang disebut Tiang Mbis.

     Pada era modern saat ini, para pematung sudah bekerja dengan berbagai media atau bahan. Patung-patung yang dihasilkan merupakan sarana mengungkapkan gagasan yang bentuknya telah diperhitungkan.

c.Seni Kerajinan

     Selain seni patung, seni rupa Indonesia juga menghasilkan seni kerajinan yang memiliki manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Beberapa bentuk kerajinan adalah seni anyam, tenun, tembikar, kerajinan kayu,hingga seni sesaji.

1).Seni Anyam


     Seni anyam merupakan kerajinan kesukuan yang umumnya dilakukan penduduk pedesaan di Indonesia. Kerajinan itu, telah menyatu dengan kegiatan keseharian masyarakat tradisional dalam menghasilkan barang keperluan sehari-hari. Seni mengayam tidak memerlukan peralatan yang rumit dan bahannya ditemukan berlimpah di desa.

    Tas Anyam Contoh Seni Kerajinan
  1. Tikar: Terbuat dari rotan, sisal dan pandan. Berbagai tikar ditemukan di Jawa, Bali, Lombok, Madura, dan Kalimantan.
  2. Tas: Ditemukan di seluruh wilayah Nusantara. Di Jawa, tas anyaman telah menjadi industri rakyat
  3. Topi: Bentuk topi yang luar biasa adalah tilangaa yang berpinggir lebar karya orang Rote.
  4. Puan: Berguna sebagai penyimpan sirih, berkembang di Kalimantan Tengan dan Kalimantan Timur.
  5. Tempat Air: Terbuat dari daun tal yang direntangkan dengan lidi. Tempat air semacam ini ditemukan di Pulau Rote.
  6. Alat Musik: Sesandu terbuat dari bambu dengan kotak resonan daun tal. Sesandu ditemukan di Pulau Rote dan Timor.

2).Tembikar

     Indonesia memiliki kekayaan tradisi pembuatan tembikar sejak masa prasejarah. Tradisi itu telah memenuhi kebutuhan masyarakat atas perkakas sehari-hari dan benda-benda upacara. Desa tembikar tradisonal ditemukan di seluruh Indonesia kecuali di Papua.

3).Kerajinan Kayu

     Persediaan kayu yang melimpah di Indonesia sejak dahulu kala menyediakan bahan mentah bagi kerajinan kayu. Di antara barang-barang kerajinan kayu yang penting dalam kehidupan sehari-hari adalah perabot rumah tangga, benda penghias, dan benda pelengkap.

     Sekian ulasan saya mengenai bentuk seni rupa yang berkembang di Indonesia, mulai dari seni lukis, seni patung serta seni kerajinan. Semoga bermanfaat.
Baca Selengkapnya

Bentuk Seni Pertunjukan Yang Berkembang di Indonesia

Bentuk Seni Pertunjukan Yang Berkembang di Indonesia


     Seperti telah dijelaskan sebelumnya, seni pertunjukan dibagi dua yaitu seni pertunjukan tradisional dan seni pertunjukan modern atau yang muncul belakangan ini. Bila dilihat dari perkembangannya di Indonesia maka akan terlihat bahwa seni pertunjukan tradisional kalah berkembang dengan seni pertunjukan modern. Bila tidak diantisipasi dengan baik bukan tidak mungkin seni pertunjukan tradisional tersebut akan hilang.

     Perkembangan kesenian dipengaruhi oleh segi lingkungan yang berupa keadaan masyarakat, pendidikan, dan situasi budaya suatu kelompok masyarakat di mana seni tersebut berada. Baiklah, kita tinjau satu per satu.

a.Keadaan masyarakat, sifat dari masyarakat yang sudah maju sudah kita ketahui, yaitu individual. Sedangkan sifat masyarakat yang belum maju adalah tradisional. Individual adalah sikap hidup yang diketahui berasal dari Barat. Sedang tradisional ini merupakan sikap hidup masyarakat Timur pada umumnya.

b.Faktor pendidikan, ini sangat besar pengaruhnya terhadap perkembangan kesenian. Sistem pendidikan zaman kolonial Belanda mengakibatkan kita tidak mengenal lagi kebudayaan tradisional Indonesia secara utuh. Ini baru dapat diakhiri setelah Indonesia merdeka. Tetapi kita sudah terlanjur tidak kenal lagi dengan kebudayaan kita sendiri. Yang kita kenal adalah semua seni berorientasi ke dunia Barat.

c.Faktor situasi budaya, apabila suatu kesenian tradisional masih kuat atau hidup, maka ini akan berpengaruh kepada seniman-seniman yang hidup di sekitar tempat itu. Demikian pula andaikan kehidupan tidak memperlihatkan seni tradisional, maka seniman-seniman itu akan mencari pegangan lain yang bukan tradisional lagi.

a.Teater Rakyat atau Teater Tradisional


Ketoprak Contoh Teater Tradisional
     Di wilayah Indonesia, kita kenal berbagai jenis seni pertunjukan yang lazim disebut ’teater tradisional’ (telah mentradisi), ’teater rakyat’ (karena merakyat) atau ’teater daerah’ (berciri khas daerah). Secara konvensional, yang dimaksud teater daerah terbatas pada seni pertunjukan yang memiliki ciri khas daerah tertentu.

     Beberapa contoh jenis teater rakyat, teater daerah, atau teater tradisional di Indonesia antara lain Bangsawan (Sumatra Utara), Randai (Sumatra Barat), Dermuluk (Sumatra Selatan), Makyong, Mendu (Riau, Kalimantan Barat), Mamanda (Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur), Ubrug, Longser, Bonjet (Jawa Barat), Lenong, Topeng, Blantik (Batawi), Mansres (Indramayu), Sintren (Cirebon), Kethoprak (Yogya, Solo, Jawa Tengah, Jawa Timur), Wayang (Kulit atau Purwa, Orang, Topeng, Golek, Sungging, Gedog, Kidang Kencana, Menak; Klitik atau Krucil, Kulit Perjuangan, Kulit Kancil, Potehi, Cina, atau Thithi, Beber, Madya, Tasripin, Suluh, Wahana, Pancasila, Wahyu) tersebar hampir di seluruh Jawa, Dadung Awuk (Yogya), serta Kuda Lumping (Yogya, Solo, Jawa Tengah).

b.Seni Pertunjukan Modern

     Seni pertunjukan modern tidak kalah beragam dari seni pertunjukan tradisional, bahkan ada kecenderungan bahwa seni pertunjukan modern telah menggusur tempat seni pertunjukan tradisional di hati masyarakat. Misalnya saja, teater, opera, film, sinetron, telenovela dan beragam acara yang ditayangkan di televisi lainnya. Inilah yang dihasilkan oleh perkembangan teknologi informasi dengan berkuasanya media elektronik yang tidak mengharuskan pemirsa untuk mendatangi tempat pertunjukan secara langsung. Jumlah pemirsa atau audience yang dirangkum pun relatif lebih banyak apabila melalui media televisi.

c.Seni Tari


Macm-macam Tari di Indonesia
     Nah, ternyata seni pertunjukan di Indonesia sangat banyak jenisnya. Bagaimana dengan seni tari ? Tentunya kamu juga setuju bahwa Indonesia merupakan surganya seni tradisional, termasuk seni tari. Tari merupakan gerak tubuh yang berkesinambungan melewati ruang yang telah ditentukan dengan ritme tertentu yang dilakukan secara sadar.

     Perkembangan seni tari di Indonesia sangat terkait dengan perkembangan kehidupan masyarakatnya, baik ditinjau dari struktur etnik maupun dalam lingkup negara kesatuan. Perkembangan seni tari Indonesia terbagi atas beberapa periode sebagai berikut:

1).Zaman Pra Sejarah

     Bentuk-bentuk seni pertunjukan pada masa prasejarah masih banyak terdapat di daerah pedalaman yang terpencil yang diwarnai oleh kepercayaan animisme. Sisa-sisa pertunjukan yang berbau animisme, penyembahan nenek moyang dan binatang totem, masih bisa dijumpai di Papua, pedalaman Kalimantan, pedalaman Sumatra, pedalaman Sulawesi, beberapa daerah di Bali yang disebut Bali Aga atau Bali Mula, seperti Trunyan dan Tenganan, serta di Jawa. Perwujudan tari pada masa itu diduga merupakan refleksi dari satu kebulatan kehidupan masyarakat agraris yang terkait dengan adat istiadat, kepercayaan, dan norma kehidupannya secara turun-temurun

     Beberapa sisa tarian pada masa itu yang kini masih bisa diamati, baik dalam upacara maupun dalam bentuk tontonan. Misalnya tari Kuda Kepang atau tari Jathilan di Jawa Tengah, tari Topeng Hudoq dari Kalimantan yang menampilkan gerak tari yang sederhana dan mengutamakan ekspresi spontan dari pelakunya. Ciri-ciri tersebut tampaknya merupakan kondisi dasar yang hampir sama di wilayah-wilayah etnik yang agraris.

2).Masa Kerajaan

     Masa kerajaan ini ditandai oleh masuknya pengaruh luar sebagai unsur asing antara lain kebudayaan Cina, Hindu-Buddha, Islam, dan Barat. Pengaruh kebudayaan Cina kurang mendapat perhatian oleh para peneliti, karena kemungkinan dasar kepercayaan yang hampir sama dengan masyarakat pribumi, yaitu percaya kepada roh-roh leluhur, sehingga kurang begitu nyata pada perubahan sistem kemasyarakatannya.

     Adegan pengaruh Hindu-Buddha sangat nyata pada stratifikasi sosial yang hierarkis yang ditandai dengan adanya sistem kelas sosial, yaitu masyarakat adat atau rakyat dan masyarakat bangsawan atau istana. Dengan adanya dua kelas sosial ini maka muncul dua wajah tari yang disebut tari rakyat dan tari istana atau tari klasik.

     Tarian yang terkenal ciptaan para raja, khususnya di Jawa, adalah bentuk teater tari seperti Wayang wong dan Bedhaya ketawang. Dua tarian ini merupakan pusaka raja Jawa. Namun selanjutnya Wayang wong lebih berkembang di Keraton Yogyakarta, sedangkan Bedhaya ketawang berkembang di Keraton Surakarta.

     Pengaruh kebudayaan Islam lebih berkembang di Sumatra. Cerita-cerita yang dibawakan lewat hafalan dan nyanyian selalu menonjolkan warna Islam secara jelas, contohnya tari Shaman di Aceh. Tarian ini mengutamakan gerakan dan tepukan tangan pada badan penari yang dilakukan sambil duduk dengan diiringi vokal yang mendendangkan syair keagamaan. Selain itu, pengaruh Islam tampak pula pada tari-tarian di Sumatra Barat, Minangkabau. Ciri khas tarian di Minangkabau banyak mengolah gerak-gerak beladiri seperti pencak silat. Di daerah pantai Kalimantan terdapat tarian yang menitikberatkan pada langkah kaki seperti tari-tarian Melayu.

     Pengaruh kebudayaan Barat dalam bidang tari di istana-istana Jawa berhubungan dengan lepasnya kekuasaan politik raja kepada pihak Barat, sehingga sejak abad ke-18 sampai awal abad ke-20 keraton hanya berperan dalam pengembangan kebudayaan. Oleh karena itu berkembang pula ciptaan-ciptaan tari seperti tari Serimpi (tarian yang ditampilkan oleh empat orang penari wanita).

     Pertunjukan Wayang Wong masih dipentaskan sangat meriah sesuai dengan fungsinya sebagai ritual kenegaraan. Di sisi lain, pengaruh barat ini menyebabkan munculnya tarian di luar konteks adat. Secara koreografis, pengaruh Barat kurang dapat dilihat dalam tarian Indonesia.

     Kenyataan ini sangat berbeda dengan bidang musik. Bentuk musik hasil penyesuaian antara musik rakyat Indonesia dengan pengaruh Barat terdapat pada gambang keromong, tanjidor, langgam jawa, keroncong, dangdut, dan sebagainya.

3).Masa Pasca Kerajaan hingga Sekarang

     Masa pasca kerajaan terdapat situasi yang cukup menonjol dalam bidang kesenian yang disebabkan oleh perubahan masyarakat yang agraris-feodal menuju masyarakat negara kesatuan atau Republik Indonesia yang modern. Kecepatan perubahan tersebut didukung pula oleh media massa elektronik, seperti televisi. Modernisasi sangat berkepentingan dengan kecepatan waktu, sehingga situasi ini menimbulkan seni yang bersifat populer atau seni massa.

     Gagasan ”ke-nasional-an” ini muncul berhubungan dengan pergerakan kemerdekaan yang dimotori oleh para nasionalis. Ternyata gagasan ini berpengaruh pula pada bidang kesenian. Jika dalam seni musik gagasan ini dituangkan pada pengambilan unsur-unsur asing (barat) yang di luar konteks Indonesia. Dalam seni tari, gagasan ini dituangkan dengan jalan, antara lain,

     penembusan secara sengaja atas batas-batas kesukuan (etnik), penyederhanaan tari-tari tradisional yang sudah mapan, dan ramuan unsur-unsur tari berbagai daerah di Indonesia. Gagasan ini mendorong saling kenalan budaya antar wilayah etnik. Pada saat ini mulai terjadi pengkemasan tarian etnik menjadi tari dengan pola gerak standar yang secara artistik dapat memenuhi kriteria tontonan. Pada saat ini pula terjadi persentuhan dengan kecepatan waktu.Tari-tarian yang mulai menembus wilayah etniknya antara lain, tari Jawa, tari Bali, dan tari Minangkabau.

     Sekian ulasan saya meengenai bentuk seni pertunjukan yang berkembang di Indonesia, mulai dari teater rakyat atau teater tradisional, seni pertunjukan modern serta seni tari. semoga bermanfaat.
Baca Selengkapnya

Minggu, 28 Juni 2015

Seni Pertunjukan dan Seni Musik

Seni Pertunjukan dan Seni Musik


Seni Pertunjukan

     Dalam bahasa Inggris, seni pertunjukan dikenal dengan istilah perfomance art. Seni pertunjukan merupakan bentuk seni yang cukup kompleks karena merupakan gabungan antara berbagai bidang seni. Jika kamu perhatikan, sebuah pertunjukan kesenian seperti teater atau sendratari biasanya terdiri atas seni musik, dialog, kostum, panggung, pencahayaan, dan seni rias. Seni pertunjukan sangat menonjolkan manusia sebagai aktor atau aktrisnya.

     Seni pertunjukan dibagi dua yaitu seni pertunjukan tradisional dan seni pertunjukan modern atau yang muncul belakangan ini. Apabila dilihat dari perkembangannya akan terlihat bahwa seni pertunjukan tradisional kalah berkembang dengan seni pertunjukan modern. Apabila tidak diantisipasi dengan baik, bukan tidak mungkin seni pertunjukan tradisional tersebut akan hilang.

a.Seni Pertunjukan Tradisional


Pertunjukan Wayang Kulit
     Di dalam setiap pementasannya, beberapa bentuk kesenian tradisional selalu membawa misi yang ingin disampaikan kepada penonton. Misi atau pesan itu dapat bersifat sosial, politik, moral dan sebagainya. Sebenarnya dalam setiap pertunjukan seni tradisional ada beberapa nilai tertentu yang dikandungnya. Seni pertunjukan tradisional secara umum mempunyai empat fungsi, yaitu fungsi ritual, fungsi pendidikan sebagai media tuntunan, fungsi atau media penerangan atau kritik sosial dan fungsi hiburan atau tontonan.

     Untuk memenuhi fungsi ritual, seni pertunjukan yang ditampilkan biasanya masih berpijak pada aturan-aturan tradisi. Misalnya sesaji sebelum pementasan wayang, ritual-ritual bersih desa dengan seni pertunjukan dan sesaji tertentu, pantangan-pantangan yang tidak boleh dilanggar selama pertunjukan dan lain-lain.

     Sebagai media pendidikan, pertunjukan tradisional mentransformasikan nilai-nilai budaya yang ada dalam seni pertunjukan tradisional tersebut. Oleh karena itu, seorang seniman betul-betul dituntut untuk dapat berperan semaksimal mungkin atas peran yang dibawakannya. Seni pertunjukan tradisional (wayang kulit, wayang orang, ketoprak) sebenarnya sudah mengandung media pendidikan pada hakikat seni pertunjukan itu sendiri, dalam perwatakan tokoh-tokohnya dan juga dalam ceritanya. Misalnya pertentangan yang baik dan yang buruk akan dimenangkan yang baik, kerukunan Pandawa, nilai-nilai kesetiaan dan lain-lain.

     Pada masa sekarang ini seni pertunjukan tradisional cukup efektif pula sebagai media penerangan ataupun kritik sosial, baik dari pemerintah atau dari rakyat. Misalnya pesan-pesan pembangunan, penyampaian informasi dan lain-lain. Sebaliknya rakyat dapat mengkritik pimpinan atau pemerintah secara tidak langsung misalnya lewat adegan goro-goro pada wayang atau dagelan pada ketoprak. Hal ini disebabkan adanya anggapan mengkritik (lebih-lebih) pimpinan atau atasan adalah “tabu”. Melalui sindiran atau guyonan dapat diungkap tentang berbagai ketidakberesan yang ada, tanpa menyakiti orang lain.

     Sebagai media tontonan seni pertunjukan tradisional harus dapat menghibur penonton, menghilangkan stres dan menyenangkan hati. Sebagai tontonan atau hiburan seni pertunjukan tradisional ini biasanya tidak ada kaitannya dengan upacara ritual. Pertunjukan ini diselenggarakan benar-benar hanya untuk hiburan misalnya tampil pada peringatan kelahiran, resepsi pernikahan dan lain-lain.

b.Seni Pertunjukan Modern

     Contoh pertunjukan modern antara lain drama, opera, fragmen, teater, dan film. Seni pertunjukan modern banyak ditampilkan di media elektronik seperti televisi.

Seni Musik

     Di dalam antropologi ada cabang ilmu khusus yang mempelajari musik yaitu etnomusikologi. Etnomusikologi adalah cabang antropologi yang mempelajari dan mengamati kesenian rakyat. Seni musik merupakan keterampilan kreatif individual yang dapat dipupuk dan dapat merupakan kebanggaan seseorang karena telah menciptakan atau memainkannya. 

     Melalui musik, nasihat atau pesan dapat disampaikan lebih mudah karena didengar atau diperdengarkan berulang kali. Sifat nyanyian adalah didaktis, inspiratif, religius, politis, emosional, simbolis dan mudah diingat. 

    Musik memiliki beberapa fungsi, yaitu:

  1. Komunikasi secara merata melalui perasaan atau pengalaman hidup
  2. Menyampaikan nilai sebagai fungsi sosial
  3. Memberi inspirasi
  4. Menyampaikan nilai religius
Bentuk Seni di Era Kontemporer

     Di era kontemporer ini telah banyak lahir bentuk seni yang baru, diantaranya:

a.Klik Art

     Dalam proses pembuatan klik art, seseorang tidak harus membuatnya dengan tangan (melukisnya sendiri). Dalam Klik Art ini siapa saja bisa membuat lukisan dengan memanfaatkan gambar yang ada atau lukisan orang lain yang mungkin diubah atau ditambahi, bahkan dikurangi. Tapi perlu diingat dalam klik art ini kamu harus bisa mengoperasikan komputer dan program- progarmnya yang digunakan dalam kegiatan ini, misalnya: Corel Draw, Photosop, dan sebagainya.

b.Net Art

     Net art merupakan bentuk seni yang dipamerkan di ruang maya (Internet). Di net art ini, kamu bisa mengubah gambar, mengurangi dan menambahi, atau mungkin kamu mengganti inisial pembuatnya dengan namamu. Namun perlu diingat walaupun kamu mengubah atau mengganti inisial pencipta pada karya net art ini, si pembuat akan semakin bangga karena ia merasa menang dan puas karena karyanya ternyata interaktif.

c.Video Art atau Video Instalasi

     Jenis kesenian video art ini tidak beda dengan seni instalasi yang dalam aktualisasinya si seniman memanfatkan teknologi televisi yang terhubung dengan video atau komputer. Jadi, pesan yang ingin disampaikan si kreator itu diserahkan pada seonggok mesin, tapi kadang si kreator juga menyertakan tubuhnya atau tubuh orang lain, yang sepertinya kita melihat itu mirip seni pertunjukan. Namun ini tidak dapat dikatakan sebagai seni pertunjukan murni karena masih ada unsur rupanya, namun juga bukan seni rupa karena sarana dalam video art ini unsur gerak, bunyi, dan sastra juga.

     Sekian ulasan saya menggenai penjelasan seni pertunjukan serta penjelasan seni musik. Semoga bermanfaat.
Baca Selengkapnya

Kesenian

Kesenian


Pengertian Kesenian

     Ada berbagai definisi kesenian yang disajikan di sini. Kamu dapat menelaah satu persatu, kemudian membuat definisi dengan bahasamu sendiri. 

     Kata “seni” adalah sebuah kata yang semua orang di pastikan mengenalnya, walaupun dengan kadar pemahaman yang berbeda. Kata seni berasal dari kata ”sani” yang kurang lebih artinya ”jiwa yang luhur atau ketulusan jiwa”.

     Menurut kajian ilmu di Eropa, seni disebut ”art” (artivisial) yang artinya kurang lebih adalah barang/ atau karya dari sebuah kegiatan. Menurut Suharto Rijoatmojo dalam buku Ethnologie, kesenian adalah segala sesuatu ciptaan manusia untuk memenuhi atau untuk menunjukkan rasa keindahan. 

     Keseniaan merupakan hasil dari unsur budaya manusia, yaitu rasa. Definisi kesenian lainnya adalah menurut Alexander Alland, sebagaimana yang dituliskan oleh Marvin Harris. Ia menyatakan bahwa kesenian adalah bermain dengan menghasilkan bentuk transformasi representatif yang estetik. Pendapat tersebut,dapat dijabarkan berikut ini.

     Bermain adalah kesenangan, aspek aktivitas kepuasan yang tidak dapat diukur. Bentuk adalah bangunan yang dibentuk pada waktu dan ruang bermain di dalam kesenian. Estetik adalah eksistensi kapasitas manusia secara universal sebagai suatu apresiasi emosi dan kesenangan. 

     Adapun perwujudan transformasi adalah aspek komunikasi suatu kesenian. Kesenian selalu mewakili sesuatu dan mengomunikasikan informasi. Komunikasi di dalam kesenian berbeda dengan komunikasi lain. Komunikasi di dalam kesenian harus diubah ke dalam bentuk kiasan atau pernyataan simbolik.

     Berdasarkan penelitian para ahli, seni atau karya seni sudah ada kurang lebih sejak 60.000 tahun yang lalu. Bukti ini terdapat pada dinding-dinding gua di Prancis Selatan. Buktinya berupa lukisan yang berupa torehan-torehan pada dinding dengan menggunakan warna yang menggambarkan kehidupan manusia purba. Artefak atau bukti ini mirip lukisan modern yang penuh ekspresi. Hal ini dapat kita lihat dari kebebasan mengubah bentuk.

     Satu hal yang membedakan antara karya seni manusia purba dengan manusia modern adalah terletak pada tujuan penciptaannya. Manusia purba membuat karya seni atau penanda kebudayaan sangat dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan di sekitarnya. Sedangkan manusia modern membuat karya seni atau penanda kebudayaan digunakan untuk kepuasan pribadi dan menggambarkan kondisi lingkungannya. Dengan kata lain, manusia modern adalah sosok yang ingin menemukan hal-hal yang baru dan mempunyai cakrawala berpikir yang lebih luas.

     Semua bentuk kesenian pada zaman dahulu selalu ditandai dengan kesadaran magis karena memang demikian awal kebudayaan manusia. Dari kehidupan yang sederhana yang memuja alam sampai pada kesadaran terhadap keberadaan alam

     Saat ini, kesenian terus berkembang seiring dengan perkembangan kebudayaan manusia. Perkembangan kesenian juga sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi. Oleh karena itu, tidak heran apabila kamu menemukan bidang-bidang seni baru.

Bentuk-Bentuk Kesenian

Bentuk-bentuk Kesenian
     Bagi kamu yang menyukai musik, mungkin kamu terbiasa mendengarkan lagu-lagu dari radio, handphone, atau menonton konser musik penyanyi favorit kamu. Dari siaran televisi, kamu juga biasa menikmati berbagai bentuk kesenian, mulai dari film hingga pertunjukkan lawak. Mungkin, kamu juga pernah menonton pameran-pameran seni lukis dan kerajinan. 

     Begitu banyak bentuk kesenian di sekitar kita, mulai dari yang tradisional hingga kesenian kontemporer. Biasanya, antropolog menyoroti seni sebagai suatu gejala kebudayaan, yaitu dengan aktivitas menyusun katalog, memotret, mencatat, dan mendeskripsikan seluruh bentuk kegiatan imajinatif pada suatu kebudayaan tertentu. 

     Hasil imajinasi tersebut adalah berbagai jenis seni seperti musik, tarian sosial, legenda, pakaian, selimut, gaya tembikar, hiasan bangunan, monumen, dan lain-lain. Namun secara garis besar, beberapa bentuk kesenian tersebut dapat digolongkan sebagai berikut.

A.Seni Rupa

     Seni rupa merupakan cabang seni yang membentuk karya seni yang bisa ditangkap oleh mata dan dirasakan dengan rabaan. Kesan yang diberikan oleh seni rupa merupakan hasil olahan dari konsep garis, bidang, bentuk, volume, warna, tekstur, dan pencahayaan dengan acuan estetika. 

     Secara kasar, terjemahan seni rupa dalam bahasa Inggris adalah fine art. Namun, sesuai perkembangan seni modern istilah ini menjadi lebih khusus kepada pengertian seni rupa murni. Hal ini untuk membedakan dengan istilah seni kriya atau visual arts.

     Apabila dilihat dari ukurannya, seni rupa dapat berbentuk dua dimensi atau tiga dimensi. Seni rupa dua dimensi terdiri atas satuan panjang dan lebar, misalnya lukisan atau kartun. Sedangkan seni rupa tiga dimensi terdiri atas ukuran panjang, lebar, dan tinggi misalnya patung dan kerajinan.

1).Bidang- Bidang Seni Rupa

     Bidang-bidang seni rupa terdiri atas:

  1. Seni Rupa Murni; Seni rupa murni adalah bidang seni rupa yang mengutamakan cipta, rasa dan karsa manusia pada sesuatu yang indah untuk mengekspresikan diri. Yang tergolong seni rupa murni antara lain seni lukis, seni grafis, seni patung, seni instalasi, seni keramik, seni film, dan seni fotografi.
  2. Seni Rupa Terapan (Seni Kriya); Seni rupa terapan adalah bidang seni rupa yang menciptakan karya yang dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Yang tergolong seni kriya adalah kriya tekstil, kriya kayu, kriya keramik, dan kriya rotan.
  3. Desain; Seni rupa desain merupakan bidang seni rupa yang mempelajari rancang bangun atau bentuk suatu karya seni. Yang tergolong dalam seni rupa desain antara lain arsitektur, desain grafis, desain interior, desain busana, dan desain produk.

2).Fungsi Seni Rupa

     Di depan telah dijelaskan bahwa dengan berkesenian, manusia mampu mengekspresikan pikiran dan suasana lingkungan yang melingkupi dirinya. Demikian pula dengan seni rupa, bidang seni rupa memiliki beberapa fungsi atau peranan dalam kehidupan manusia, antara lain:

  1. Media atau sarana komunikasi.
  2. Media atau sarana mengekspresikan diri atau untuk mencapai kepuasan batin.
  3. Menambah keindahan barang-barang atau produk yang diciptakan manusia sehingga nilai ekonominya meningkat.
  4. Sebagai pelengkap kebutuhan hidup.
  5. Sebagai suatu kebanggaan pribadi atau individu.

B.Seni Sastra

     Banyak sekali manfaat yang diperoleh apabila kita rajin membaca. Kita akan lebih tahu banyak hal dan dengan bekal pengetahuan itu, kita akan mudah menganalisis berbagai masalah dan mampu mencari solusinya. Untuk dapat membedakan mana bacaan atau buku yang tergolong hasil karya seni sastra dan bukankita  perlu memahami pengertian seni sastra berikut ini.

1).Pengertian Seni Sastra

     Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia atau KBBI, sastra adalah bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yang dipakai dalam kitab-kitab (bukan bahasa sehari-hari). Definisi kedua menurut kamus ini adalah karya tulis, yang jika dibandingkan dengan tulisan lain, memiliki berbagai ciri keunggulan seperti keaslian, keartistikan, keindahan dalam isi dan ungkapannya. Istilah sastra sendiri, berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti ”tulisan” atau ”karangan”. Sastra biasanya diartikan sebagai karangan dengan bahasa yang indah dan isi yang baik.

     Bahasa yang indah artinya bisa menimbulkan kesan dan menghibur pembacanya. Isi yang baik artinya berguna dan mengandung nilai pendidikan. Bentuk fisik dari sastra disebut karya sastra. Penulis karya sastra disebut sastrawan. Dalam Bahasa Indonesia, kata ini biasa digunakan untuk merujuk kepada ”kesusastraan” atau sebuah jenis tulisan yang memiliki arti atau keindahan tertentu. Tetapi kata ”sastra” bisa pula merujuk kepada semua jenis tulisan, apakah ini indah atau tidak.

     Selain itu dalam arti kesusastraan, sastra bisa dibagi menjadi sastra tertulis atau sastra lisan (sastra oral). Di sini, sastra tidak banyak berhubungan dengan tulisan, tetapi dengan bahasa yang dijadikan wahana untuk mengekspresikan pengalaman atau pemikiran tertentu. Biasanya, kesusastraan dibagi menurut daerah geografis atau bahasa lokal. Misalnya, kamu yang bersekolah di Yogyakarta dan Jawa Tengah akan mempelajari sastra Jawa, teman-temanmu yang bersekolah di Jawa barat akan mempelajari sastra Sunda, dan seterusnya
.
     Dari ketiga sumber di atas, arti kata sastra selalu mengarah pada inti yang sama berikut ini.

  1. Sastra berupa bahasa, untaian kata-kata, gaya bahasa, ungkapan.
  2. Sastra tercurah dalam bentuk kitab, karya tulis, tulisan, karangan, lisan.
  3. Sastra bernilai seni, indah, artistik, asli sastra berisi ajaran, pendidikan, instruksi, dan pedoman.

2).Bidang Seni Sastra

     Seni sastra tidak hanya berhubungan dengan tulisan tetapi dengan bahasa yang dijadikan wahana untuk mengekspresikan pengalaman atau pemikiran tertentu. Oleh karena itu, seni sastra bisa dibagi menjadi dua, yaitu:

  1. Seni Sastra Tulis; Sesuai namanya, seni sastra tulis merupakan bentuk karya sastra yang dituangkan dalam bentuk tulisan, yaitu kombinasi huruf yang mempunyai makna atau arti. Banyak sekali jenis seni sastra tulisan yang berkembang di masyarakat, misalnya dalam bentuk prosa, puisi, cerita fiksi, dan essai.
  2. Seni Sastra Lisan; Seni sastra lisan disampaikan dengan bahasa lisan , yaitu dengan dituturkan secara langsung kepada pendengar, dengan atau tanpa iringan musik tertentu.


3).Fungsi Seni Sastra

     Seni sastra yang diwujudkan dalam bentuk karya sastra memiliki beberapa fungsi penting dalam masyarakat, di antaranya:

a).Sarana Menyampaikan Pesan Moral

     Sastrawan menulis karya sastra, antara lain untuk menyampaikan model kehidupan yang diidealkan dan ditampilkan dalam cerita lewat para tokoh. Dengan karya sastranya, sastrawan menawarkan pesan moral yang berhubungan dengan sifat-sifat luhur kemanusiaan, memperjuangkan hak dan martabat manusia. Sifat-sifat itu pada hakikatnya universal, artinya diyakini oleh semua manusia. Pembaca diharapkan dalam menghayati sifat-sifat ini dan kemudian menerapkannya dalam kehidupan nyata.

     Moral dalam karya sastra atau hikmah yang akan disampaikan oleh sastrawan selalu dalam pengertian yang baik karena pada awal mula semua karya sastra adalah baik. Jika dalam cerita ditampilkan sikap dan tingkah laku tokoh-tokoh yang tidak terpuji, baik mereka berlaku sebagai tokoh antagonis maupun protagonis, bukan berarti sastrawan menyarankan bertingkah laku demikian. Pembaca diharapkan dapat mengambil hikmah sendiri dari cerita. Sesuatu yang baik justru akan lebih mencolok bila dikonfrontasikan dengan yang tidak baik.

b).Sarana Menyampaikan Kritik

     Seni sastra, terutama sastra tulisan dapat menjadi sarana untuk menyampaikan kritik atas fenomena sosial maupun politik dalam masyarakat. Misalnya, novel atau puisi yang mengemukakan masalah kemiskinan, perbedaan gender antara pria dan wanita, atau kesenjangan sosial. Melalui  sastra, masyarakat pembaca menjadi berempati dan bersimpati yang pada akhirnya akan tergugah untuk berpartisipasi menyelesaikan masalah-masalah sosial tersebut.


c).Menumbuhkan Rasa Nasionalisme dan Penghargaan terhadap Kebudayaan Daerah Sebagai bagian dari kebudayaan nasional, seni sastra Indonesia merupakan wahana ekspresi budaya dalam rangka upaya ikut memupuk kesadaran sejarah serta semangat nasionalisme. Semangat nasionalisme dalam seni sastra tidak hanya aktual pada masa revolusi saja, tetapi di era globalisasi yang dapat mengancam sendi-sendi nasionalisme suatu bangsa.

     Sekian ulassan saya mengenai Kesenian, mulai dari pengertian kesenian serta bentuk-bentuk kesenian. semoga bermanfaat.
Baca Selengkapnya

Kebudayaan Suku Dayak, Bugis, Asmat dan Dani

Kebudayaan Suku Dayak, Bugis, Asmat dan Dani


1.Kebudayaan Suku Dayak

a.Sistem Kepercayaan/Religi Suku Dayak


     Masyarakat Dayak terbagi menjadi beberapa suku, yaitu Ngaju, Ot, Danum, dan Ma’anyan di Kalimantan Tengah. Kepercayaan yang dianut meliputi: agama Islam, Kristen, Katolik, dan Kaharingan (pribumi). Kata Kaharingan diambil dari Danum Kaharingan yang berarti air kehidupan.

     Masyarakat Dayak percaya pada roh-roh:

  1. Sangiang nayu-nayu (roh baik);
  2. Taloh, kambe (roh jahat).

Upacara Penyambutan Tamu Suku Dayak
     Dalam syair-syair suci suku bangsa Ngaju dunia roh disebut negeri raja yang berpasir emas. Upacara adat dalam masyarakat Dayak meliputi:

  1. upacara pembakaran mayat,
  2. upacara menyambut kelahiran anak, dan
  3. upacara penguburan mayat.

     Upacara pembakaran mayat disebut tiwah dan abu sisa pembakaran diletakkan di sebuah bangunan yang disebut tambak.

b.Sistem Kekerabatan Suku Dayak

     Sistem kekerabatan masyarakat Dayak berdasarkan ambilineal yaitu menghitung hubungan masyarakat melalui laki-laki dan sebagian perempuan. Perkawinan yang ideal adalah perkawinan dengan saudara sepupu yang kakeknya saudara sekandung (hajanen dalam bahasa Ngaju). Masyarakat Dayak tidak melarang gadis-gadis mereka menikah dengan laki-laki bangsa lain asalkan laki-laki itu tunduk dengan adat istiadat.

c.Sistem Politik Suku Dayak

     Pemerintahan desa secara formal berada di tangan pembekal dan penghulu. Pembekal bertindak sebagai pemimpin administrasi. Penghulu sebagai kepala adat dalam desa. Kedudukan pembekal dan penghulu sangat terpandang di desa, dahulu jabatan itu dirangkap oleh patih. Ada pula penasihat penghulu disebut mantir. Menurut A.B. Hudson hukum pidana RI telah berlaku pada masyarakat Dayak untuk mendampingi hukum adat yang ada.

d.Sistem Ekonomi Suku Dayak

     Bercocok tanam di ladang adalah mata pencaharian masyarakat Dayak. Selain bertanam padi mereka menanam ubi kayu, nanas, pisang, cabai, dan buah-buahan. Adapun yang banyak ditanam di ladang ialah durian dan pinang. Selain bercocok tanam mereka juga berburu rusa untuk makanan sehari-hari. Alat yang digunakan meliputi dondang, lonjo (tombak), dan ambang (parang).

     Masyarakat Dayak terkenal dengan seni menganyam kulit, rotan, tikar, topi, yang dijual ke Kuala Kapuas, Banjarmasin, dan Sampit.

e.Sistem Kesenian Suku Dayak

     Seni tari Dayak adalah tari tambu dan bungai yang bertema kepahlawanan, serta tari balean dadas, bertema permohonan kesembuhan dari sakit.

     Rumah adat Dayak adalah rumah betang yang dihuni lebih dari 20 kepala keluarga. Rumah betang terdiri atas enam kamar, yaitu kamar untuk menyimpan alat perang, kamar gadis, kamar upacara adat, kamar agama, dan kamar tamu.

2.Kebudayaan Suku Makassar (Bugis)

a.Sistem Kepercayaan/Religi Suku Bugis

     Masyarakat Bugis banyak tinggal di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Mereka penganut Islam yang taat. Masyarakat Bugis juga masih percaya dengan satu dewa tunggal yang mempunyai nama-nama sebagai berikut;

  1. Patoto-e : dewa penentu nasib.
  2. Dewata Seuwa-e : dewa tunggal.
  3. Turie a’rana : kehendak tertinggi.

     Masyarakat Bugis menganggap bahwa budaya (adat) itu keramat. Budaya (adat) tersebut didasarkan atas lima unsur pokok panngaderreng (aturan adat yang keramat dan sakral), yaitu sebagai berikut;

  1. Ade (‘ada dalam bahasa Makassar).
  2. Bicara.
  3. Rapang.
  4. Wari’.
  5. Sara’.

b.Sistem Kekerabatan Suku Bugis


     Perkawinan yang ideal di Makassar sebagai berikut;

Perkawinan Suku Bugis
  1. Assialang Marola adalah perkawinan antara saudara sepupu sederajat kesatu baik dari pihak ayah/ibu.
  2. Assialanna Memang adalah perkawinan antara saudara sepupu sederajat kedua baik dari pihak ayah/ ibu.  

     Perkawinan yang dilarang adalah perkawinan anak dengan ayah/ibu dan menantu dengan mertua.

     Kegiatan-kegiatan sebelum perkawinan, meliputi:

  1. Mappuce-puce: meminang gadis,
  2. Massuro : menentukan tanggal pernikahan,
  3. Maddupa : mengundang dalam pesta perkawinan.

c.Sistem Politik Suku Bugis

     Masyarakat Bugis Makassar kebanyakan mendiami Kabupaten Maros dan Pangkajene. Mereka tinggal di sebuah kampung yang terdiri atas 10 – 20 buah rumah. Kampung pusat ditandai dengan pohon beringin besar yang dianggap keramat dan dipimpin oleh kepala kampung disebut matowa. Gabungan kampung disebut wanua sama dengan kecamatan.

     Lapisan masyarakat Bugis Makassar sebelum kolonial Belanda adalah:

  1. ana’ karung yaitu lapisan kaum kerabat raja,
  2. to-maradeka yaitu lapisan orang merdeka,
  3. ata yaitu lapisan budak.

d.Sistem Ekonomi Suku Bugis

     Mata pencaharian masyarakat Bugis-Makassar yaitu pertanian, pelayaran, dan perdagangan. Masyarakat Bugis Makassar juga telah mewarisi hukum niaga. Ammana Gappa dalam bukunya Ade’allopiloping Bicaranna Pabbalue yang ditulis pada abad ke-17, menyebutkan sambil berlayar mereka berdagang di pulau-pulau di Indonesia. Selain itu mereka juga membuat kerajinan rumah tangga seperti tenunan sarung.

e.Sistem Kesenian Suku Bugis

     Rumah adat suku bangsa Bugis Makassar berupa panggung yang terdiri atas 3 bagian sebagai berikut:

  1. Kalle balla: untuk tamu, tidur, dan makan.
  2. Pammakkang: untuk menyimpan pusaka.
  3. Passiringang: untuk menyimpan alat pertanian.

f.Pakaian adat Suku Bugis

     Pakaian adat khas wanita Bugis Makassar adalah baju bodo. Baju bodo berupa kain sarung yang berwarna merah hati, biru, dan hijau.

3.Kebudayaan Suku Asmat

a.Sistem Kepercayaan/Religi Suku Asmat

     Suku bangsa Asmat percaya bahwa nenek moyang mereka berasal dari patung. Dalam mitologi masyarakat Asmat, Dewa Fumeripits (Sang Pencipta) terdampar di pantai, namun nyawanya diselamatkan oleh sekelompok burung.

     Dewa Fumeripits selanjutnya tinggal sendirian. Oleh karena itu, ia kemudian membangun sebuah rumah panjang yang diisi dengan patung manusia dan tifa (gendang). Ajaibnya, patung tersebut berubah menjadi manusia dan menari-nari. Suku bangsa Asmat juga mengenal adanya roh nenek moyang di sekitar lingkungannya. Adapun roh-roh tersebut, yaitu sebagai berikut:


  1. Yi-Ow: roh nenek moyang yang baik maka disimbolkan dengan upacara-upacara adat.
  2. Osbopon: roh jahat yang membawa penyakit.

Mbipokkumbu (Upacara Topeng)
     Upacara-upacara besar yang dilakukan oleh suku bangsa Asmat sebagai berikut;

  1. Mbismbu: upacara pembuatan mbis (patung nenek moyang yang diukir).
  2. Yentpokmbu: upacara pembuatan rumah.
  3. Mbipokkumbu: upacara topeng.

b.Sistem Kekerabatan Suku Asmat

     Sistem kekerabatan masyarakat Asmat bersifat monogami, yaitu pernikahan satu pasang suami dengan istri. Namun sekitar 25% perkawinan-perkawinan masyarakat Asmat bersifat poligami. Semua klen dalam tiap masyarakat desa Asmat diklasifikasikan dalam dua golongan, masing-masing merupakan suatu kelompok.

c.Sistem Politik Suku Asmat

     Pemimpin Asmat memiliki derajat yang sama dengan warga-warga lain tetapi harus lebih pandai dan ahli dalam bidang tertentu. Biasanya seseorang yang menang perang akan diminta menjadi pemimpin. Masyarakat Asmat juga mengenal struktur masyarakat atau aipem. Fungsi aipem adalah untuk meningkatkan kualitas dengan melakukan persaingan.

d.Sistem Ekonomi Suku Asmat

     Mata pencaharian masyarakat Asmat antara lain meramu sagu dan berburu binatang (babi hutan). Masyarakat Asmat yang tinggal di daerah hulu menanam pohon pada kebun-kebun mereka.

     Pemerintah Indonesia memerhatikan pendidikan suku bangsa Asmat, yaitu melakukan kerja sama dengan organisasi penyiaran agama Katolik di Belanda dan Amerika. Selain itu, untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat Asmat, sagu dimanfaatkan sebagai komoditas ekspor.

e.Sistem Kesenian Suku Asmat

     Kesenian Asmat yang terkenal adalah ukir-ukiran yang terbuat dari kayu seperti patung, topeng, tifa, dan tombak. Selain itu juga alat-alat rumah tangga seperti kapak dari batu.

4.Kebudayaan Suku Dani

a.Sistem Kepercayaan/Religi Suku Dani

     Suku bangsa Dani tinggal di Lembah Baliem, Papua Barat. Suku Dani lebih suka disebut suku bangsa Parim/suku bangsa Baliem. Suku bangsa Dani percaya pada roh, yaitu roh laki-laki (Suangi Ayoka) dan roh perempuan (Suangi Hosile).

     Suku bangsa Dani mempercayai atou, yaitu kekuatan sakti yang berasal dari nenek moyang yang diturunkan kepada anak lelakinya. Kekuatan tersebut meliputi:

  1. kekuatan menjaga kebun,
  2. kekuatan menyembuhkan penyakit, dan
  3. kekuatan menyuburkan tanah.

b.Sistem Kekerabatan Suku Dani

     Kekerabatan masyarakat suku bangsa Dani bersifat patrilineal, pernikahan suku bangsa Dani bersifat poligami. Keluarga batih ini tinggal di satu satuan tempat tinggal yang disebut silimo. Berdasarkan mitologi, suku bangsa Dani berasal dari sepasang suami istri yang tinggal di Kampung Maina di Lembah Baliem.

c.Sistem Politik Suku Dani

     Kepala suku besar disebut ap kain. Pemimpin suku disebut watlangka. Selain itu juga terdapat pemimpin pada bidang tertentu, sebagai berikut.

  1. Ap Menteg: kepala perang.
  2. Ap Horeg: kepala suku kesuburan.
  3. Ap Ubalik: kepala suku adat.

     Pemimpin dalam masyarakat Dani harus dapat menjadi panutan bagi rakyatnya. Oleh sebab itu pemimpin tersebut juga harus memiliki kemampuan, antara lain berdiplomasi, bercocok tanam, berburu, keberanian, dan ramah.

d.Sistem Ekonomi Suku Dani

     Mata pencaharian suku bangsa Dani adalah bercocok tanam ubi kayu dan ubi jalar yang disebut hipere. Selain berkebun, mata pencaharian suku bangsa Dani adalah beternak babi. Babi dipelihara dalam kandang yang bernama wamai.

     Bagi suku bangsa Dani, babi memiliki manfaat yang cukup banyak, antara lain dagingnya untuk dimakan, tulang-tulangnya untuk pisau dan hiasan, dan darahnya untuk perlengkapan upacara adat.

e.Sistem Kesenian dan kerajinan Suku Dani


Rumah Honae     Kesenian masyarakat suku bangsa Dani dapat dilihat dari cara membangun rumah dan beberapa bangunan suku bangsa Dani antara lain sebagai berikut.

  1. Honae: merupakan rumah adat suku bangsa Dani. Honae berbentuk bulat dan atapnya berasal dari rumput kering.
  2. Ebeai: rumah wanita, ebe artinya tubuh/pusat dan ai artinya rumah.
  3. Wamai artinya kandang babi yang berbentuk persegi panjang dan disekat sebanyak jumlah ebeai.

     Kerajinan masyarakat suku bangsa Dani antara lain korok: alat sejenis parang, sege: alat sejenis tugal untuk melubangi tanah, moliage: sejenis kapak batu dengan ujung dari besi, dan wim: busur panah. Peralatan-peralatan tersebut biasanya diberi hiasan atau diukir agar nampak indah.

     Sekian ulaan saya mengenai kebudayaan suku Dayak, kebudayaan suku Makassar Bugis, kebudayaan suku Asmat serta kebudayaan suku Dani. Semoga bermanfaat.
Baca Selengkapnya